Kamu Sayur, Aku Gorengan

Bersama suami menjadi mahasiswa di negeri orang, adalah suatu berkah yang tak ternilai bagi saya dan suami. Disini kami benar-benar mengenali satu sama lain ‘sebenarnya’. Kenapa? Karena dengan waktu luang yang tidak banyak, kami selalu menghabiskannya berdua. Tidak seperti jaman kami pacaran, yang waktunya terbatas ketika kami harus pulang ke rumah atau kosan masing-masing. Atau ketika kami harus bermain dengan kegiatan dan teman yang juga berbeda.๐Ÿ™‚ Entah apapun aktivitasnya. Sekarang ini, dari mulai membersihkan rumah, memasak, belanja, nonton TV (Streaming), bahkan kadang belajar pun berdua. Karena sedikit banyak ada beberapa pengetahuan di research kami yang masih nyambung.

Aktivitas yang paling menyenangkan adalah memasak. Karena kami berdua tipe orang yang doyan makan. Gampang laper.๐Ÿ™‚ Kalau pacaran, gak ada jamannya kami nangkring di cafe, nonton bioskop atau menghabiskan aktivitas mahal tanpa mengenyangkan. Tapi so far, kami masih belum gendut-gendut amat. Hehe. Jadi lanjuttt.๐Ÿ˜€

Nah, memasak ini menjadi penting ketika tinggal disini. Karena tidak mudah mendapatkan makanan halal. Bahkan kalau beneran mau keras, hampir tidak ada makanan halal.๐Ÿ˜€ Jadi demi keamanan, kami usahakan sebisa kami masak. Kalau sudah capek, mau pingsan (lebay), kdinginan pulang, barulah kami makan dimana saja. Yang kami duga, halal, semoga!!!๐Ÿ˜€

Dari mulai sarapan, makan siang dan makan malam kami memasak. Gak praktis? Iya sih, kadang kami berfikir seperti itu. Tapi karena selain suka makan, kami suka makanan yang fresh. Susah banget makan makanan bekel. Sepertinya ada cita rasa yang hilang.

Aktivitas ini karena sering dilakukan, tanpa disuruh dan ย tanpa dibagi. Kami akhirnya menspesialisasi diri kami dalam masakan. Entah kenapa kalau membuat sesuatu yang goreng-gorengan, masakan saya enak. Sedangkan kalau bikin sayur-sayuran, suami lebih jago. Dan tanpa pernah bilang dengan jelas (kecuali di blog ini mungkin yah). Kami membagi kerja kami, anehnya, secara otomatis.

Ketika kami datang ke rumah, langsung saya menyalakan kompor, manasin minyak, sambil membuat adonan untuk gorengan, atau tinggal ambil bahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan suami, langsung nyari talenan, motongin bawang, sayur dan teman-temannya.

Dan cukup! Cukup enak buat kami berdua.

Setelah ditilik-tilik. Kalau saya bikin sayur, rasanya suka keasinan, bentuknya gak menarik. Kalau suami disuruh bikin gorengan? Dia gak ngerti kayaknya gimana urutannya, cenderung ribet.

Baiklah, mulai sekarang, “Kamu sayur, aku gorengan yah…”. <——– Masih dalam hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s