Empati dan Kesulitan (?)

Membangun rumah tangga di usia pernikahan yang sangat muda sambil mengenyam pendidikan di tanah rantau adalah suatu hal yang menantang untuk saya dan suami. Jiwa muda identik dengan kebebasan dan semangat yang menggebu. Jika ada beban berat yang harus dipikul, sebuah keniscayaan menjadi lebih ringan saat dibagi bersama. Selalu ada teman berbagi yang akan menerima kita di saat senang atau pun susah. Apalagi? Banyak hal indah yang bisa dirasakan. Tapi hidup tetap lah hidup. Tidak akan selamanya indah dan tidak akan selamanya susah.

Dalam menjalani masa-masa yang sulit, perlu ditanamkan dalam persepsi, bahwa disini lah kita ditempa. Disinilah kita membentuk batas kesabaran yang seharusnya semakin dibuka lebar, semakin luas dan semakin dewasa. Banyak hal yang perlu diselesaikan oleh waktu, dengan cara bersabar. Dan di titik terendah, disitu kita membentuk idealisme. Bertahan pada satu keyakinan, yang tidak boleh sedikitpun pudar apalagi hancur oleh masa-masa sulit itu.

Satu hal positif yang cenderung dipaksa hadir dalam masa sulit adalah empati. Kenapa saya bilang ‘terpaksa’? Karena memang sulit membentuk empati ini. Tidak ada jaminan, ketika kita keluar dari masa-masa sulit, empati itu tetap ada. Tapi biasanya, saat sulit, empati ‘terpaksa’ keluar.

Sekarang bagaimana kita tetap bisa membenamkan empati kita jauh ke alam bawah sadar, menjadi karakter. Bukan hanya sekedar teman yang datang dan pergi oleh kondisi.

Bismillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s