Saya, Bagian dari Umat Islam di Indonesia

Bagaimana hukum mengatur perbedaan keyakinan? Kita tidak bisa menyamakan semua hukum di dunia. Karena kesepakatan bersama masyarakat yang harus membentuk hukum. Dan kemudian dijalankan sesuai kesepakatan, secara fair. Kalau di Malaysia, hukum mengikuti syariat Islam untuk orang Islam di Malaysia, ya sudah kesepakatannya begitu. Tapi di Indonesia? Kita bukan Malaysia. Kita punya hukum sendiri, yang berdasarkan pada pancasila. Pada UUD. Dan peraturan lainnya.

Pertanyaan yang sangat mengganggu dalam diri saya saat ini adalah, apakah kebebasan beragama di Indonesia itu dijamin? Bagaimana caranya? Saya bukan anak hukum. Tetapi apa yang diajarkan dari SD sampai kuliah, saya tahu, ada 5 agama yang diakui di Indonesia. Dan kelimanya dilindungi undang-undang mengenai kebebasan beragamanya. Lantas bagaimana dengan agama lain? Khong hu cu misalnya? Ahmadiyah?

Ok. Saya menyebut aliran yang saat ini sedang sensitif di Indonesia. Ahmadiyah. Mungkin sebagian orang akan bilang, lah itu kan Islam juga. Nah, disini lah yang membuat saya bingung. Saya sebagai Muslim, kemusliman saya didasarkan pada syahadat yang mengakui Allah sebagai Tuhan saya. Dan Muhammad sebagai nabi saya. Implikasi dari bersyahadat itu salah satunya adalah menjalankan dan meyakini ajarannya, Alqur’an dan Sunnah. Dalam Al-Qur’an jelas, mengatakan bahwa Rasulullah sebagai nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi selain dia, yang ada hanya ulama. Tidak ada lagi wahyu yang turun dari Allah dan menjadi kitab, selain Al-Qur’an dan pada masa setelah Rasulullah wafat. Selain wahyu yang turun berangsur-angsur kepada Muhammad.

Sedangkan Ahmadiyyah mengakui nabi baru, yaitu Ahmad. Dan meyakini wahyu-wahyu baru yang diterima oleh Ahmad ini. Maka, jelas, ajaran ahmadiyah secara mendasar sudah beda dengan Islam. Seperti halnya Islam dengan Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Mungkin urusan lainnya, ya sama. Berbuat baik kepada manusia dll. Tapi secara mendasar, berbeda. Saya jadi ingat tentang Kristen dan Islam. Orang Kristen kan tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi. Tapi Islam mengakui adanya Isa Al-masih sebagai nabi. Dan injil sebagai kitab Allah namun dijelaskan di Injil akan ada nabi penutup, yaitu Muhammad. Mungkin bedanya seperti itu yah. Jadi dah beda agama aja itu mah. Dan tidak perlu diperdebatkan siapa yang benar. Cukup difahami aja, bahwa Islam dan Kristen itu berbeda. Islam dan Ahmadiyah itu berbeda.

Ok. Paragraf di atas hanya ingin memperjelas saja, kenapa saya dan sebagian masyarakat Islam di Indonesia menganggap tidak sama. Dan khawatir dengan aliran ini. Kenapa harus khawatir? Karena saya menjadi was-was ketika saya ingin mempelajari agama saya dengan baik di Indonesia ini. Tidak ada jaminan, bahwa masjid yang saya datangi, adalah masjid Islam. Yang akan mengajarkan saya ajaran Islam. Bukan ahmadiyah. Sejauh ini, yang menjadi kekhawatiran orang tua, ketika masjid-masjid di Indonesia disusupi orang yang mengaku Islam, padahal membawa ajaran ahmadiyyah. Apakah ini perlu dilindungi oleh pemerintah? Saya ingin kejelasan saja.

Dan mungkin juga bagi sebagian orang, lah selagi masih mengajarkan kebaikan ya biarkan saja. Yang penting tidak saling membunuh. Well, disini lah saya dilema dengan kebebasan. Kalau gitu kita tidak usah bertuhan saja. Yang penting berbuat baik saja.😕 Begitukah? Ya keblenger juga kalau gitu buat saya sih. Kalau menurut saya, beda ya gak papa. Yang penting tidak saling mengganggu satu sama lain. Dan memaksakan satu sama lain.

Di Islam, sangat penting bagi kami menjaga akidah. Kepercayaan terhadap Rasul dan Allah SWT. Walaupun yang namanya hidayah bukan urusan saya. Tetapi kalau saya menjadi was-was ketika ingin belajar mengenai agama saya sendiri di Indonesia, saya jadi bingung. Apakah ke was-wasan saya ini tidak perlu dilindungi pemerintah? Cukup diperjelas saja sebenarnya. Ya atau tidak. Kalau memang ini urusan saya saja, baik, saya akan ekstra hati-hati dalam memilih tempat belajar agama. Tempat mendidik agama anak-anak saya nanti. Saya tidak akan mempercayai pemerintah akan melindungi saya dalam berislam.

Tapi kalau ini termasuk dilindungi, tolong perjelas bahwa Ahmadiyah adalah agama lain dalam islam. Dan tidak diperkenankan menggunakan nama ‘Islam saja’ sebagai agama. Tetapi misalnya, ahmadiyah, Islam ahmadiyyah. Dan mereka pun boleh berdakwah secara terang-terangan. Tentunya, dengan bilang bahwa mereka Islam Ahamdiyyah atau Ahmadiyyah. Dan kitab mereka pun boleh menyebar, dengan tulisan Al Quran Ahmadiyyah. Kitab Ahmadiyyah.

Kalau masih implisit begini, masyarakat jd bingung mau belajar Islam. Jadi takut. Pernah ada teman ikut satu pengajian, ISlam yah, terus lama-lama menemukan keganjilan dalam ajarannya. Dan ternyata yang dia datangi adalah Ahmadiyyah.😥 Orang jadi antipati sama forum2 belajar agama. Kalau sudah begitu, siapa yang senang? Orang Islam tapi takut belajar Islam? Karena banyak oknum-oknum Ahmadiyah dengan payung Islam, menjebak di awal untuk menyebarkan agamanya. Apakah keadaan seperti ini harus dipelihara?

Kalau masih menggunakan payung yang sama, jelas ini membuat kekhawatiran di tengah umat Islam. Tidak sama loh ya perbedaan Ahamdiyyah dengan Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdhatul Ulama, tidak sama. Ini hal yang berbeda. Jadi bukannya saya sebagai orang Islam tidak suka perbedaan Islam. Tetapi posisi nya perbedaan ini menggunakan payung yang sama dan membuat resah.

Ajaran muhammadiyah atau NU atau Persatuan Islam, ketika saya menjalanakannya, saya tetap Islam. Karena yang berbeda bukan hal-hal yang mendasar. Atau akidah. Mengakui Ahmadiyyah sebagai Islam, bagi saya sama halnya saya mempercayai Budha. Atau saya mempercayai Yesus kristus sebagai Tuhan saya. Jadi mengerti kan kenapa membuat khawatir? Dan ujung-ujungnya, kalau keresahan ini terjadi di antara orang yang tidak pendidikan, menganggur, dan miskin, ini bisa jadi konflik. Dan ini harus segera diselesaikan. Jangan memelihara potensi konflik untuk diledakkan sekali-sekali untuk mengalihkan isu-isu di negara kita tercinta ini.🙂 Please… diselesaikan.

Selanjutnya, kekhawatiran ini tidak bisa dijadikan alasan bagi saya untuk membenci bahkan membunuh orang-orang Ahmadiyyah. Karena dalam Islam sendiri kita tidak boleh mencampuri urusan agama lain dan tidak membiarkan agama lain juga mencampuri urusan agama kita. Apalagi soal akidah. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Dan tidak dibenarkan mengganggu orang lain. Jangankan merusak rumah ibadah dan membunuh. Semua perilaku kebaikan sesama manusia harus diterapkan kepada semua orang tanpa memandang agama. Karena kasih sayang Islam bukanlah untuk orang Islam saja. Melainkan rahmatan lil alamiin. Kasih sayang bagi semesta alam.

Lalu apa yang terjadi dengan umat Islam di Indonesia sekarang? Kenapa yang awalnya hanya kekhawatiran ini menjadi konflik? Bahkan saling membunuh? Saya sejujurnya sangat-sangat pusing mengenai hal ini. Kenapa bisa, belajar agama yang sama dengan saya, tetapi berperilaku berbeda dengan saya. Apakah ini bentuk ketidak solidaritasan saya dengan muslim yang ikut andil dalam kekerasan antar umat beragama di Indonesia? Tidak. Justru saya prihatin dengan mereka. Saya kasihan.

Mereka mungkin sama khawatirnya dengan saya soal ahmadiyyah. Mereka juga mungkin sama khawatirnya dengan saya ketika Islam dijelek-jelekan dan dituduh sebagai ajaran yang tidak berperikemanusiaan (krn banyak teroris dll). Mereka juga sama sakitnya ketika membaca tulisan di internet tentang bagaimana isu-isu yang diangkat dari fakta di lapangan selalu berusaha untuk memojokkan umat Islam.

Tapi saya selalu ingat. Kalau kata-kata tidak bisa merubah apapun. Selagi sebagian umat Islam membunuh dan disebarkan beritanya seacara besar-besaran. Maka citra itu lah yang akan ditangkap oleh orang lain tentang Islam. Dan sebaik-baiknya apapun yang dilakukan oleh orang Islam, tidak lah harus kita besar-besar kan. Dan itu benar. Disini lah saya sebagai orang Islam harus bersabar. Tidak boleh terpancing dan ingin menunjukkan ajaran Islam sebenarnya yang damai dengan cara yang justru malah semakin mendukung asumsi-asumsi negatif masyarakat. Hanya karena kita tidak bersabar dengan hukum Allah.

Berbuat baiklah dengan siapa saja. Dan jangan berharap apa-apa dari manusia. Berharaplah pada Allah SWT yang akan menilai sendiri kebaikan kita dan membalasnya dengan cara Dia. Bersabarlah bukan hanya untuk tidak menyerang walaupun diserang atau dipancing lebih dulu. Bersabarlah. Biarkan mereka yang mengolok-olok Islam capek sendiri. Fokuslah untuk menjalankan ajaran agama Islam dengan sebaik-baiknya. Tidak akan penting perjuangan kita menegakkan akidah masyarakat Islam kalau kita nya sendiri belum benar shalatnya. Belum sempurna mengkaji Qur’annya. Belum sempurna kerja kerasnya. Belum pintar belajarnya. Malu lah kita untuk mengutuk.

Maafkan tulisan ini kalau tidak sistematis. Karena tulisan ini sebenanrnya hanya ingin menumpahkan pemikiran dan perasaan yang terpendam. Tentang bagaimana menjadi bagian dari umat Islam di Indonesia. Isu-isu minoritas yang diangkat memang jadi pas buat diangkat. Tetapi percayalah. Tidak hanya kaum minoritas yang merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Umat Islam di Indonesia pun menjadi khawatir setiap kali pergi ke negara-negara lain yang denger kabar Islam di Indonesia yang tidak menyeluruh. Mereka kan akan pukul rata soal Islam.

Semoga hukum benar-benar ditegakkan dan tidak tebang pilih. Dan semua masyarakat pun tidak perlu menunggu orang lain adil untuk berbuat adil.

Jangan kita keruhkan yang sudah keruh.

Jadilah lilin kecil di tengah kegelapan ini.

Jangan kita menebar kebencian. Bahkan hanya dengan kata-kata kita yang mungkin bisa memprovokasi orang lain.

Karena masih perlu diketahui, masyarakat Indonesia masih rendah pendidikannya. Belum lagi dimbombardir dengan gaya hidup modern yang membuat masyarakat lebih senang berfikir instan untuk menyelesaikan masalah.

Wallahualam bi shawaf…

Peace, love and gaul….🙂

Dan terakhir, saya tanya lagi, apakah kebebasan beragama di Indonesia dilindungi? Bagaimana caranya? Bagaimana caranya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s