Zone of Comfort

Rasanya sudah kita ketahui bersama kalau dalam hidup ini, kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan. Dari piilihan mudah sampai pilihan sulit. Dari pilihan milih baju warna apa yang mau dipakai, sampai milih pasangan hidup. Hehe. Dan semakin Dewasa, biasanya kita semakin bertanggung jawab dengan pilihan kita Sehingga kita akan berusaha lebih keras. Untuk berpegang pada apa yang sudah kita pilih.

Namun satu hal yang masih menjadi ganjalan di hati saya. Apa yang kita cari setelah kita memilih? Apakah sesederhana karena saya suka? Karena Tuhan suka? Atau apa yah?

Saya bertanya seperti itu, karena semalaman ini memikirkan tentang si mental dalam diri saya. Sudah berumur 22 tahun, tapi saya merasa mental saya masih lembek. Dan setelah berfikir keras, saya sering memilih sesuatu yang saya anggap akan membuat hidup saya lebih nyaman. Wajar gak yah?

Zone of comfort. Kayaknya musuh bagi orang-orang anti kemapanan. Tapi sangat digemari oleh hampir banyak orang. Pertanyaannya, banyak orang menggapai zone of comfort dengan cara yang tidak comfort. Bagaimana dengan hal tersebut? Karena saya berfikir, kalau manusia mencari kenyamanan saja dalam hidup, maka dia akan kehilangan proses pembelajaran. Tapi bagaimana dengan yang saya tanyakan tadi? Untuk menggapai kenyamanan itu sendiri, seringkali tidak mudah, tidak nyaman.

Ah, saya benar-benar bingung.

Maaf yah kalau tulisannya gak ngasih solusi.🙂 Mari kita pikirkan masing-masing lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s