Bertolak Energi Itu

Suasana di sebuah rumah. Hiduplah seorang Ibu yang bersusah payah. Ditinggal suaminya pergi tanpa kabar. Bertahun-tahun ia hidup dalam kepayahan. Namun Ibu tersebut tetap bersabar. Beliau membesarkan anak-anaknya sendiri. Tanpa bantuan siapapun dan tanpa keluhan. Anak-anak tumbuh sangat baik. Melebihi anak-anak dengan dua orang tua.

Namun, di ujung masa, Sang Suami datang kembali. Merongrong kehidupannya. Perasaan berkecamuk, memori masa lalu menggugat perasaan Sang Ibu. Depresi merasuki pikiran. Tak teruji. Lantas Sang Ibu berubah. Seolah pengalaman tak membuatnya kuat menghadapi Sang Suami.

Tak ada lagi energi penuh kebaikan yang memancar. Tak ada lagi hangat Ibu yang dirasa. Tak ada lagi tangan lembut yang membelai anak-anaknya.

Seketika, rumah surga itu penuh dengan kebencian. Penuh dengan kesakitan. Akankah abadi persakitan ini?

-teriakan bocah di sudut jalan kota-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s