GOLDEN IN, GOLDEN OUT

“Saya juga mau… Tapi saya gak tahu mesti ngapain…”

Kalimat di atas merupakan kalimat yang sederhana. Tetapi cukup berbahaya kalau tidak segera ditemukan jawabannya. Kenapa berbahaya? Karena seringkali kejadian-kejadian bunuh diri, membunuh orang lain, menggunakan cara-cara haram dalam mencapai keinginan, dimulai dari kesenjangan antara kemauan, kemampuan dan kesempatan.
Manusia cenderung bertindak sesuai dengan basic apa yang dia tahu. Misalnya saja begini, ada sebungkus mie di atas meja, berwarna hijau bungkusnya. Anak bayi berumur 1-2 tahun menyukai warnanya, kemudian mengangkat-ngangkat tangannya untuk meraih. Setelah jatuh, ia kebingungan membukanya. Mungkin yang terjadi hanya mengacak-acak atau membuat bungkusnya basah karena berusaha menggigit tapi tidak cukup kuat. Anak SD yang belum belajar menggunakan kompor, dapat mengambilnya dengan mudah. Karena lapar, tidak bisa masak dan tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan, ia meremas mie kering tersebut, membumbuinya dan memakannya begitu saja. Bapak-bapak yang kelaparan di tengah malam. Akan merebusnya, memakannya. Anak gadis yang kreatif, mungkin akan menambahkan rawit dan sayur untuk meningkatkan selera.
Dari kesemuanya, intinya, setiap orang akan bertindak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Keinginannya sama, makan. Pengetahuan manusia berkembang setiap waktu sesuai dengan informasi yang dia terima. Dulu saya suka membaca buku-buku yang menurut ayah saya ‘aneh’, dan mungkin kurang baik, tidak perlu dibaca. Kemudian beliau menjelaskan tentang garbage in, garbage out. Bahwa otak kita akan merekam hal-hal apa saja yang berkenaan dengan kita. Kemudian otak itu akan melandasi tindakan kita. Kalau kita masukan informasi sampah, maka perilaku kita tidak jauh dari sampah. Sebaliknya, kalau kita terus menerus memasukkan otak kita informasi yang golden, maka tindakan kita pun akan menjadi tindakan golden.

Jadi untuk memperbaiki keputusan-keputusan, sikap-sikap dalam hidup kita, sebenarnya terdapat banyak sekali cara. Salah satunya, terutama untuk kualitas tindakan kita, kita dapat mencermati lagi informasi-informasi yang masuk ke dalam diri kita. Entah dari bacaan kita, tontonan kita, tempat bergaul kita, dll.

Selain memperbaiki sumber informasi-inforasi tersebut, jangan lupa untuk memperkaya sumber informasi. Supaya kita gak bilang ‘no idea‘ atas masalah kita sendiri. Menjadikan membaca, beridskusi dan bergaul menjadi kebiasaan bagi saya itu good idea juga.😀

Semoga kita menjadi generasi-generasi emas… Bukan generasi sampah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s