KALAU TAKUT, COBA JALANI SAJA

fear

Sebenarnya hal yang mejadi renungan saya malam ini adalah bagaimana menaklukan rasa takut yang ada dalam diri. Mengalahkan ketakutan menjadi keberanian. Menjadikan sesuatu yang dianggap gak mungkin jadi mungkin. Pengalaman yang saya ingat, saya melakukan ini dua kali. Pertama, saat menyetir Bandung-Surabaya pulang pergi Desember kemarin. Kedua, kejadian sore ini.

Saat itu, Umi saya meragukan perjalanan kami sekeluarga dengan satu supir, saya. Nada keraguan itu sebenarnya sudah terlihat dari sikap-sikap beliau. Saya juga sempat bertanya ke beberapa sahabat, berangkat atau tidak ya ke Surabaya? Banyak yang meragukan. Saya juga jadi takut. Padahal perjalanan ini sudah direncanakan sejak lama. Hanya saja harusnya kakak saya ikut, sehingga supirnya ada dua. Membayangkan perjalanan 12 jam tak henti, melewati jalan panjang tak berlampu di daerah perbatasan Jateng dan Jatim. Ban bocor dan lain-lain yang menyeramkan. Ngantuk, dan tak seorang pun bisa menggantikan. Wah pokoknya bikin saya pusing. Tetapi akhirnya, saya memutuskan untuk tidur sebentar dan merenung.

Bukan hal yang baik, saya tidur menjelang maghrib. Cuaca di luar hujan deras. Merenung di kamar membuat saya menjadi semakin down. Dan berfikir, gak usah ajalah. Ke Jogja saja atau daerah Jateng yang belum pernah dikunjungi. Kemudian saya bangkit, bersiap-siap. Setelah maghrib menjelang, saya ambil kunci mobil dan masuk ke kamar Umi. “Ayo mi, kita berangkat sekarang.” Umi kelihatannya agak bingung. Tetapi beliau langsung bersiap dan mengajak Faqih untuk bersiap juga.

Akhirnya kami berangkat. Dan entah kenapa, aura-aura menakutkan itu hilang seketika ketika saya sudah menyetir mobil ke arah Cileunyi. Tiba-tiba hati ini mantab, Surabaya! Tak ada rasa takut. Ban bocor? Saya ingat pernah belajar dongkrak saat SMP dulu. Yah, yang pasti saya jadi tidak ada sedikitpun rasa takut. Paling hanya maslaah mengantuk. Cuman saya ingat teorinya. Kalau ngantuk, ya berhenti. Kalau udah lewat ngantuknya, biasanya kuat dan malah gak bisa tidur. Jadi, hajar aja Surabaya. Sampai di Surabaya dengan selamat. Dan pulang ke Bandung lagi dengan selamat. Pulangnya sempat sih bermalam di Solo. Karena saya pun harus mengukur kemampuan diri.

Lama setelah kejadian ini. Umi pernah bilang kalau awalnya dia sangat meragukan saya menyetir sampai ke Surabaya. Beliau berfikir paling nanti ujung-ujungnya ke Jogja. Tetapi yang saya ingat di perjalanan, Umi tak pernah menunjukkan sedikitpun keraguannya. Alhasil, saya pun jadi lebih percaya diri untuk menyetir sampai di Surabaya.

Kejadian sore ini pun begitu. Membayangkan gelapnya jalan dan hujan yang deras. Tetapi saya berfikir, kalau gak ada momen belajar bersama malam ini, apakah mereka akan belajar? Sebentar lagi akan mendekati momen UTS. Dan akhirnya mantabkan hati saja untuk berangkat. Mencari jas hujan dan celana anti air. Memasang headset dan music player di HP, kemudian berangkat. Dingin. Kacamata membuat semakin sulit saja. Wah, kalau ini dibayangin pas sebelum berangkat, bisa-bisa gak jadi. Selama perjalanan saya menikmati semuanya. Ya dinginnya, ya gelapnya, ya macetnya, ya musik asiknya. Semua yang ditemui di jalan menjadi suguhan yang bisa dinikmati. Sehingga perjalanan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tanpa beban.

Begitu memasuki kawasan Lembang, sempat agak takut. Karena jarak pandang menjadi semakin pendek. Tetapi apa boleh buat. Ini tinggal beberapa ratus meter lagi. Jadi terus dinikmati saja gelapnya juga. Tentunya dengan semakin hati-hati membawa motornya. Begitu sampai di asrama, ada yang berteriak, “Yea! Kak Dinda udah dateng…”. Dan hal itu benar-benar membuat rasa lelah hilang begitu saja. Beberapa anak menyalami saya. Dan sahabat saya yang tinggal di asrama memberikan suguhan obrolan-obrolan ringan yang menghangatkan. Belajar pun mulai setelah setengah jam kemudian. What a nice learning…

Saya senang sekali. Terlebih membayangkan apa yang akan hilang ketika saya memutuskan untuk takut dan tidak ngapa-ngapain. Apa yang akan tidak saya dapatkan manakala saya tidak menjalankannya. Salah satu dosen saya pernah pernah berbicara kepada para mahasiswanya di suatu kuliah. Ketika kita bingung dengan sebuah masalah, jawabannya satu. Libatkan saja diri kita pada masalah tersebut. Kemudian jadikan diri kita bagian dari penyelesaiannya. Karena dengan berfikir saja tidak pernah akan cukup untuk membuat segalanya lebih baik.

2 thoughts on “KALAU TAKUT, COBA JALANI SAJA

  1. marimarhamah says:

    banyak peristiwa yg membuat orang tua was2 thd anaknya
    itu jg yg sering umi alami di sekolah thd siswa
    tp umi selalu mencoba menyembunyikan rasa itu
    dan merubahnya menjadi motivasi
    sukses anaku…
    semoga kebanggaan ini tdk menjadi takabur buat umi

    what a great mum!!😀
    Nda sering banget kok dapet aura2 positif yang membangkitkan dr umi..salah satu contohnya kasus yg di atas.. maksiiii mi…

  2. thanks sharingnya ya.. terus terang saya sering mengalami hal yang sama saat akan menyetir, padahal saya sudah belajar nyetir sejak 8 th lalu. Setiap kali akan berangkat selalu ada keraguan dan pikiran-pikiran buruk, jangan2 nanti gini…gitu…dsb… Tapi memang setelah di jalani saat di jalan malah tak ada lagi pikiran2 itu, yang ada adalah konsentrasi di jalan saja… setuju sekali… kita hanya harus menjalaninya.. that’s the solution!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s