LHOKSEUMAWE 06:55

Tengah malam, Ummi merasakan perutnya mulas. Awalnya beliau berfikir hal tersebut hanya mulas biasa. Teringat siangnya baru saja menikmati misop (kalau di Jawa sejenis Baso lah) dan asinan Bandung. Namun rupanya rasa mulasnya kerep. Dan mulai mencurigai bayi yang ada di dalam rahimnya (hehe). Kebetulan bulan itu adalah bulan kesembilan kehamilannya. Segeralah bersiap Ummi dan Abi. Ummi sempat menggendong Uki (anak pertama, berusia 1 th 10 hari) untuk ikut ke Rumah Bersalin Materna. Abi pun bergegas menyalakan motornya.

Rupanya suara motor Abi membangunkan tetangga. Segera Mama Levi keluar, dan merebut Uki dari pangkuan Ummi. Rupanya beliau tidak tega melihat Uki yang sedang tertidur pulas dibawa pagi-pagi buta naik motor sejauh 2-3 Km menuju Rumah Bersalin Materna. Uki kemudian dititipkan di rumah Mamah Levi.

Ummi dan Abi berangkat. Setelah diperiksa, rupanya sudah pembukaan tujuh. Dimana secara teori hanya membutuhkan waktu beberapa menit lagi untuk keluar. Proses tersebut dibantu oleh seorang Bidan yang masih perawan dan baru lulus sekolah kebidanan, maklum karena di Lhokseumawe saat itu hanya terdapat dua dokter kandungan. Itu pun keduanya sedang ke luar kota. Bismillah, Ummi menggantungkan keselamatan diri dan bayinya pada Bidan tersebut.

Berusaha dan menanti selama dua jam, bayi tersebut hanya keluar dan masuk sedikit-sedikit. Seolah ingin keluar tetapi tidak sanggup. Rupanya bayi tersebut terlilit ari-ari. Sehingga diperlukan keterampilann ekstra sang Bidan untuk menolong kelahiran bayinya. Abi pun ikut membantu proses persalinan. Karena Bidan baru itu sangat gugup. Akhirnya bayi pun berhasil dikeluarkan.

Betapa kagetnya Ummi dan Abi, ketika bayi perempuan itu keluar, ia tak mengeluarkan tangisan layaknya bayi normal. Bidan pun membolak-balikkan posisi bayi dengan berat 3.6 Kg dan tinggi 50 cm itu. Menepuk-nepuk badan dan menyentil telinganya. Namun tetap tak bersuara. Usaha tersebut dilanjutkan dengan menyedot hidung bayi. Akhirnya membuahkan hasil, darah keluar dari hidungnya, dan meledaklah tangisan bayi tersebut.

Perasaan lega diselimuti kebahagiaan tak terhingga dirasakan oleh Ummi dan Abi kala itu. Setelah sehari beristirahat di RUmah Bersalin, saatnya membawa bayi tersebut pulang. Saat kepulangan, pihak Rumah Bersalin menawarkan pembuatan akte kelahiran langsung. Berita gembira untuk kedua pasangan asal pulau Jawa tersebut. Kalau melalui jalur biasa, tentunya akan sangat repot. Karena tidak memiliki kartu identitas resmi di Aceh. Disambutnya tawaran itu.

Segera Abi dan Ummi mengurus administrasi dan akte kelahiran. Ketika berhadapan dengan administrator, keduanya diminta memberikan nama saat itu juga. Dahulu belum ramai adat mempersiapkan nama sebelum melahirkan, Uki kakak bayi itu pun diberikan nama setelah beberapa hari lahir. Ummi dan Abi sempat kebingungan…

Pada saat itu kebetuan sekali di Rumah Bersalin sedang dilantunkan lagu Bimbo;

...Adinda engkaulah embun pagi

Adinda engkaulah matahari

Adinda…

Sesaat itu juga, Adinda dipilih menjadi nama bayi merah itu. Digenapkanlah namanya dengan:

Adinda Ihsani Putri

Dengan penuh harap dan doa dari keduany kelak bayi perempuan itu menjadi kekasih yang baik. Semoga…

One thought on “LHOKSEUMAWE 06:55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s