BEST RAYE (2)

Tulisan ini dibuat untuk keluarga besar Eyang Hasbullah Hafidzi yang berada jauh di luar sana (Anti-Yang lagi di Cibubur untuk karantina ke Jepang, K Irham-yang masih bekerja keras di Oman, A Ijal n Keluarga-di Cannes, A Ipan dan Keluarga di Batam. ada lagi yang belum kesebut?). Mungkin merindukan detik-detik berkumpul dengan keluarga. Maaf kalau foto-fotonya belum bisa mengobati kerinduan kalian. =) Selamat Hari raya semua! Mohon maaf lahir batin ya.

Hari ini, 2 Oktober 2008, ada acara silaturahmi keluarga besar Aki Nonoh (Ayah Eyang Putri) di daerah pasir Jati. Tepatnya di rumah Wa Ndut, Anak dari Nenek Aah. Acara dibuka oleh tuan rumah. Pak Tris berlaku sebagai MC saat itu.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an kemudian dibacakan begitu syahdu berikut terjemahannya. Ayat-ayat yang mengingatkan kita untuk selelu menjalin dan menjaga siaturahmi. Anjuran menjauhi diri dari sikap memperolok-olok saudara seiman. Melerai kedua saudara yang sedang bermusuhan. Banyak, saya kurang hafal. Yang jelas cukup manjadi bahan introspeksi saya selama ini dalam menjalin silaturahmi dengan keluarga.

Dari keluarga besar eyang putri hadir keluarga Wa Entat, Wa Eni (spesial kang Rino dan Teh kiki yang sedang menunggu hari kelahiran anak pertama. Ce atau Co ya?), Wa Nina (yang baru saja nambah cucu perempuan di akhir Ramadhan), Wa Aa (sendiri ajah), Wa Neni, Keluarga Nda, dan Bi Ima.

Eyang Putri sebagai yang dituakan, kemudian memberikan wejangan singkat tentang silaturahmi. Keluarga kita semakin banyak dan tumbuh. Sampai-sampai kalau bertemu sudah seperti tidak saling kenal. Atau kagok menyapa duluan. Jadi beliau meminta maaf. kalau bisa, gak usah ragu untuk menyapa dan jangan sombong kalau disapa. Generasi kedua mungkin masih silih kenal. Tapi generasi ketiga? Eyang kemudian memberikan ide untuk membuat acara camping bareng generasi ketiga Aki Nonoh untuk saling menguatkan silaturahmi di antaranya. Ide itu disambut oleh semua hadirin. Setiap keluarga kemudian mengirimkan satu utusan untuk mengelola acaranya.

Acara resmi kemudian ditutup dengan doa oleh Bapak Wildan Hizbullah. Sungkeman sambil berkenalan kemudian menjadi acara selanjutnya. Setiap keluarga kecil (generasi kedua) kemudian dipanggil satu-satu untuk sungkem ma generasi pertama sambil dikenalkan. Setelah itu, acara makan-makan dan ada doorpize kecil-kecilan yang disediakan oleh tuan rumah untuk mencairkan suasana.

Kadang kata tak bisa berkata banyak, foto-foto ini mungkin bisa menggambarkan banyak. =)

Foto-foto di tengah Eyang Putri memberikan wejangan. =)

Ini juga sama aja. hehe.Dari kiri ke kanan: Mang Utang, Wa Didin, Mang Dindin (Abi), K Rino (Suami Teh Kiki), Wa Nur, Abil.Ini setelah makan-makan. Narsisnya cucu eyang gak ketulungan. Sampai-sampai menciptakan foto di tengah foto-foto. Wkkk.Liat aja. Tetep aja moto sendiri (lagi difoto juga).Cari foto yang ada Nda nya ah. Hehe. (Juru potret jadi jarang kepotret padahal yang lainnya dah gak pengen difoto).Eyang putri dan Eyang Apa. (Grow old with love…Nda juga mauuuu…)Jadi ada 2 doorprize spesial. Pertama, siapa yang isi dompetnya paling dikit. Ada yang 10 sen doang dong. Ya Allah watir amat. Butuh THR banget kayaknya. Hehe. Kalau yang ini, Wa Aa, menang karena (rahasia. Tar aja kalau kitta ketemu dikasih tau. hehe). Yang jelas dapet HP Flexi dari A Ndut yang kerja di Telkom. Wah, **HP baru alhamdulillah… Tuk dipakai di hari raya..**Nah, ini budak-budak yang mulai bosan. Akhirnya melihat-lihat HP dan gadget lainnya. (Dah kebelet futsal kali ye…)

Segitu dulu postingan untuk hari ini. Besok masih ada silaturahmi Abah Roi dan lusa keluarga besar Eyang Putri dan Apa. Ditunggu aja ya saudara-saudaraku.

Selamat bekerja dan belajar di luar sana! Semoga sukses!

Salam hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

BEST RAYE (1)

Berangkat siang-siang dari Bandung menuju Jakarta. Pasukan semua lengkap: Abi, Umi, Uki, Nda (supir), Faqih, Abil dan Ila. Di sepanjang jalan, kami bersenda gurau (ila n abil sebagai korban. hehe). Sesampainya di Jakarta, Kami langsung menuju apartemen Menteng Prada. Maklum, keluarga di jakarta sudah mulai banyak. Jadi gak mungkin menginap semua di rumah Nenek. Dulu sih sebagai cucu tertua kedua, masih ngerasain lebaran yang sepi dan bermalam di rumah Nenek. Tapi sekarang rasanya sudah terlalu padat kalau semua menginap disana.

Sore-sore turun ke carrefour buat belanja buka
puasa. Buka puasa terakhir penuh dengan segala yang instan. Karena males masaknya, waktu antara datang dan buka memang tidak terlalu singkat. Tapi capeknya itu loh.

Malam takbiran kami berkunjung ke rumah Nenek di Jl Pemuda. Sekedar bertemu dan mengobrol ringan. Rupanya belum ada keluarga lain yang datang. Sempat mencicipi masakan Nenek yang enak dan penuh citarasa tradisional. Cepat saja, mampir ke apotik untuk beli obat buat Umi yang lagi alergi (salah obat kayaknya), langsung berpulang ke apartemen.

Malam itu susah sekali tidur, saya sekamar dengan Umi dan Ila. Setelah mengajari ila bagaimana bebersih sebelum tidur yang baik, kami berdua ngegosip (bayangkan bahan gosipan anak SD kelas 2 dengan anak kuliahan tingkat 4. Agak gimana gitu). Dan akhirnya kami capek ngomong, lalu terlelap.

Karena tidur terlalu larut, akhirnya ketebak siapa yang bangun duluan. Ya, Umi. Dimana orang-orang tertidur, beliau sudah menyiapkan baju untuk semuanya (nyetrika) dan sudah mandi. Saya yang baru bangun pada saat itu, langsung shalat dan menyiapkan sarapan sederhana, roti coklat dan minuman sisa tadi malam.

Semua satu persatu bangun dan mandi. Lalu bersiap. Ini foto keluarga saya setelah bersiap. Gak ada yang motoin, jadi agak jelek angle nya.


Karena kami berfoto, jadi selain foto ini, kami masih ngambil banyak foto. Tapi gak membuat kami terlambat kok untuk shalat ied. Awalnya berencana shalat ied di Dewan Dakwah. Tapi pas lewat, kok sepi? Ya sudahlah, akhirnya kami ke tempat biasa shalat ied, yaitu di Pulo Mas.

Gini nih bedanya lebaran di Jakarta dengan di Bandung, pas khotbah rasanya matahari sudah terlalu panas. Coba bersabar, eh, diajak ngobrol ma tetangga shalat. Baru kenal. Jadi khotbahnya tidak terlalu bisa mencerna. Yang jelas sih, intinya tentang bagaimana menjadi muslim yang jauh dari kemiskinan iman dan harta. hehe. Begitulah…

Setelah ied, langsung menuju rumah Nenek. Semua keluarga berkumpul. Berusaha mendapati semua berkumpul. Tapi sulit. Jadi saya hanya share beberapa foto. Inilah keluarga ku di Jakarta.

Foto pertama, cucu Nenek yang perempuan (minus Lea aja. Karena mudik ke Madiun)

Foto kedua, cucu Nenek yang cowok (minusnya banyak). Soalnya gen keluarga yang di Jakarta ini kuatan Y daripada X nya. Jadi lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Sayangnya, yang laki-laki kurang gemar berfoto.

Foto yang ketiga, anak dan mantu perempuannya Nenek. Kurang satu juga. mamahnya lea.

Segitu aja foto-fotonya. Maaf kurang bagus penempatannya. Maklum, blogger amatiran. Hehe.

Kami stay di rumah nenek aja sampai adzan duhur. Karena Kakek salah satu orang yang dituakan di kampung itu, jadi kami lebih banyak dikunjungi tetangga daripada mengunjungi. Ketika sudah mulai sepi, saya dan keluarga kembali ke apartemen dan bersiap pulang ke Bandung. Tetapi ada acara baruuu. Abang saya kedatangan pacarnya. hehe. Jadi kami penasaran pengen kenalan. Dan akhirnya kami mencari baso enak. Dapat di simpang tiga. Dari sana, sempat kembali ke rumah Nenek untuk berpamitan.

Lalu perjalanan dilanjutkan ke rumah Mbak Indri (sori make mbak), bertemu ayah dan abangnya yang gak ikut mudik ke Solo. Mengobrol sebentar, langit sudah mulai gelap. Sebelum maghrib, kami berpamitan dan dapat bonus mangga. hehe. Makasih ya mbak…

Pulanglah ke Bandung. dan muacet sekali di Cipularang. Weleh-weleh. Sampai saya gantian menyupir dengan Abi. Ngantuk dan pegel berat. Sampai di bandung jam 22.00. Harus langsung istirahat. Karena besoknya ada silaturahmi keluarga Aki Nonoh. 🙂

Berkumpul… Saling membebaskan…