Batam (2)

Beberapa saat terhening di kamar kecil nan nyaman. Glek! Mengapa nafasku begitu menyakitkan. Dan seperti menyergap, air mata jatuh membasahi pipi. Sambil memegang kedua handphone ku, aku mencoba menelepon seseorang. Bercerita dan mengungkapkan perasaanku saat itu.

Ya Allah, aku tidak menyangka. Dalam keheningan malam, aku merasa sendiri dan jauh dari orang-orang yang kucintai. Aku berhasil terhubung dengan telepon genggam Anas. Bercerita sejenak. Semakin menyesakkan. Telepon tiba-tiba terputus. Aku semakin rindu semuanya.

“Umiiii! Kakak Abil nya…”, teriak de Ila kalau sedang diganggu kakaknya.

“Iya atuh, abisnya A Faqih gangguin mulu…”, alasan Abil kalau sedang disuruh shalat.

“Teh, udah subuh belum?”, suara Umi di balik kamar setiap subuh.

“Teh, ajarin fisika dong… Mau ujian nih…”, pinta Faqih kalau mendekati ujian yang belum ia kuasai betul.

Uki… Abi… Anas… Wah…

Kenapa semuanya jadi hadir di kepalaku. Dan kenapa air mata ini terus mengalir deras membasahiku? Aku sedih. Sedih sekali. Ternyata selama ini aku ada dalam keluarga yang hangat dan penuh perhatian. Aku benar-benar merasa kehilangan. Aku kesal. Aku menangis sejadi-jadinya. Terlebih saat seseorang memberikanku dukungan untuk menangis. “Nda adalah orang yang kuat. Buktinya mampu menangis. Nangis itu tingkat kontemplasi tertinggi lho… Dan itu bakal jadi energi positif buat esok hari…Menangislah…Ini hanya butuh waktu sejenak saja…. Nikmatilah…”

Setelah aku lelah menangis. Aku hampir terlelap. Tapi aku belum shalat Maghrib dan Isya. Kuambil handuk dan peralatan mandi. Aku tidak mau menghabiskan malam dengan keringat dan air mata yang masih membekas. Aku ingin bangun esok hari dengan energi baru dan penuh dengan optimisme.

Ya Allah, terimakasih. Aku merasa diberikan anugerah terbesar hari ini. Anugerah berupa sedih dan rindu. Sekarang aku benar-benar lelah. Kututup mushaf suci Tuhan… Dan membuat beberapa tulisan…

Hhh… Capek sekali… Selamat tidur semua…

Semoga esok menjadi lebih cerah.

Laa haula walaakuwwata inllaa billah…

“Di tempatkan dimanapun asal ikhlas. Itu kuncinya. Ikhlas itu perbuatan hati bukan perbuatan lisan… Ikhlas itu bukan Qana’ah… Ikhlas itu bersyukur dengan tidak menyia-nyiakan apa yang Allah dah kasih ke kita… Dan sedih terus itu bukan cara bersyukur yang tepat saat ini…”_someoneOUTthere

2 thoughts on “Batam (2)

  1. Tulisan ini membuat saya sadar, seringkali manusia menyadari arti kehadiran seseorang atau sesuatu justru disaat seseorang atau sesuatu itu hilang.

    Kamu beruntung Nda. Sangat-sangat beruntung. Ini adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kamu menyadari arti keluarga melalui kehilangan yang sifatnya sesaat. Dengan begitu, ketika kamu pulang nanti, kamu bisa menjadi orang yang lebih bersyukur karena ternyata Allah memberikan karunia yang tiada duanya melalui keluargamu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s