Batam (1)

Apa ka“Teh Nda… Dah jam setengah empat…”, sebuah suara membangunkan tidurku. Badan masih terasa lelah. Karena malamnya larut berbincang dengan kawan-kawan PII wati di rumah. Segera berge gas ke kamar mandi, bersiap untuk menyambut hidup baru dua bulan kedepan. Batam Island, I’m coming… J

Selesai bersiap, kunyalakan lampu kamar ibuku. Mereka terbangun. Memasak air hangat dan bersiap. Senang sekali. Kepergian kali ini, kedua adik kecilku ingin ikut mengantarku sampai ke travel. Mereka bangun lebih awal dari biasanya.

Ketika semua bergegas dan siap, aku menghampiri kamar adik laki-lakiku, meminta izin untuk berangkat. Melangkah sedikit lagi ke kamarku, meminta izin ke rekan-rekan PII Wati yang masih tertidur disana. Mobil kemudian membawa aku, Umi, kedua adikku dan abangku ke pool travel yang akan membawaku dari Bandung ke cengkareng.

Menikmati roti goreng dan milo, sambil menatap saudara-saudaraku yang menyantap pop mie panas, aku saat itu belum menyangka kalau tanpa mereka ternyata kesepian itu nyata. Travel berangkat, tak lupa menyalami semua dan mengirimkan beberapa pesan singkat ke kerabat dan keluarga untuk minta didoakan agar selalu diberikan kekuatan menjalani dua bulan di pulau orang.

Perjalanan ternyata tidak seperti biasanya. Bis sedikit terlambat, karena Jakarta yang macet di pagi hari. Terlalu banyak orang berkendara untuk membawa dirinya ke kantor, sekolah atau pusat kegiatan lain. Datang ke bandara, langsung check in, mencari kawan yang sudah janjian sebelumnya.

Setelah bertemu dengannya, ternyata kami menunggu lagi. Lebih lama dibandingkan waktu yang seharusnya. Pesawat terlambat 45 menit. Ingin kesal, tapi sayang energy. Akhirnya kukeluarkan komik Sinchan yang kupimjan tanpa bilang-bilang (hehe.apa ya nama yang lebih tepat) dari adikku, Abil. Tak terasa, satu komik habis, pesawat akhirnya siap untuk berangkat.

Setelah satu setengah jam di udara, saya merasakan ada yang aneh di pesawat. Derau suara tak seperti biasanya. Pesawat pun agak oleng setiap udara putih yang menyelimuti jendela pesawat hadir. Ternyata benar, tak lama kemudian ada pengumuman bahwa cuaca sangat buruk sehingga menganggu jarak pandang. Akhirnya, pesawat melakukan pendaratan darurat di Kota Pekanbaru. Jelas bukan tujuanku. Selama satu setengah jam menunggu, ingin makan, tapi takut tertinggal. Akhirnya dihabiskan dengan membeli camilan dan minuman segar sambil menonton berita di salah satu channel TV nasional.

Saat cuaca membaik, pesawat take off dari bandara Pekanbaru. Bismillah. Dan dalam waktu 40 menit, pesawat sudah landing di Bandara Hang Nadim, Batam. Lega sekali perasaanku. Begitu juga teman baruku yang duduk bersebelahan denganku di pesawat. Sambil berjalan turun dan masuk ke gedung bandara, teman baruku itu memintaku merekamnya. Merekam gambar dirinya yang baru saja tiba di Hang Nadim, Batam. Senang melakukannya. J

Menunggu bagasiku keluar, ternyata sepupuku yang baik hati menyapaku dari belakang. Bersama istrinya. Ya, aku akan tinggal di rumahnya selama di Batam. Dari bandara, aku diajak keliling sebentar kota Batam. Melihat calon kantorku, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di daerah Baloi. Udara saat itu amat teduh, tak seperti yang dibayangkan. Mungkin karena baru saja diguyur hujan. Melamun dan membayangkan menghabiskan waktu dua bulan di Batam, kemudian lamunan buyar karena mencium asap yang amat menggoda. Wow! Seafood! Aku diajak menyantap seafood di salah satu restaurant yang cukup besar.

Hidangannya sederhana, namun rasanya mantap. Pedas, gurih ditambah suguhan orange juice yang saking dinginnya, kaca gelas dipenuhi embun. Dari sana, sepupuku menjemput anaknya, kemudian kami berempat pulang ke rumahnya. Kompleks sederhana, namun indah dan tertata rapih.

Disambutnya aku dengan rumah yang rapih, nyaman dan tentunya, adem. Untuk ukuran Batam yang panas. Rumah ini memberikan kesejukan yang meneduhkan. Berusaha membereskan barang di kamar yang telah disediakan. Kamar penuh keceriaan. Boneka dimana-mana, dicat warna pink yang benar-benar cerah dan ditemani keponakanku, Aya, yang lucu dan gesit mengutak atik barangku yang dianggapnya unik.

Keceriaan di wajahnya saat ikut mengobrak-abrik tas koperku, membuat kulupa. Lupa kalau aku sudah menghabiskan 10 jam perjalanan yang melelahkan. Tertawa dan sempat membuatnya marah dan memukuliku. Wah wah. Nampaknya akan sering terjadi pertumpahan darah nih. Hehe. Setelah bosan, Aya meninggalkan kamar.

“Dadah…”, sapanya lembut padaku. Hh… Aku menghelakan nafas dan menidurkan diri di kasur. Tapi segera terbangun karena teringat aku belum shalat ashar. Setelah shalat aku mengulangnya lagi. Menjatuhkan diri di kasur dan mencoba menghubungi beberapa orang.

Lelah… Tapi melegakan…

One thought on “Batam (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s