PENONTON APRESIATIF

Tadi pagi bangun telat. Dan akhirnya telat datang ke sebuah acara pentas seni SMP. Sempat melewatkan sebuah pentas yang luar biasa menurut banyak orang. Tapi tak apa. Setidaknya masih ada banyak pentas yang perlu diapresiasi.

Awalnya saya banyak mengeluh dan memberikan komentar-komentar pada setiap pementasan. Kurang pedelah, ada salah ini-itu, ada yang nadanya gak kena dll. Hingga sesekali mungkin menganggu seorang Ibu yang duduk di depan saya. Mungkin saat saya mengomentari hal-hal yang kurang baik, ada anaknya yang tidak sengaja ikut-ikutan saya kritik. Maaf ya Bu…

Lalu saya merenung sejenak. Kenapa ya? Kok guru-gurunya mengijinkan pentas ini berjalan? Tidak buruk, namun banyak ketidak sempurnaan. Lalu saya menemukan jawabannya. Mereka sedang membangun kepercayaan diri anak dan kebanggaan orang tua murid. Bayangkan kita melihat anak kita ditonton oleh ratusan orang di sebuah gedung seni ternama di Kota Bandung. Wah, pasti bangga sekali.

Awalnya saya ingin memberikan ekspresi saya sejujurnya. Kalau jelek ya bilang, “Yah….”. Kalau bagus ya, standing applause. Kalau gak lucu pengen sok-sok ketawa atau tepuk tangan berlebihan. Tapi kemudian saya membayangkan, ini pertama mungkin buat mereka. Ini adalah test case pertama buat mereka untuk memulai. Bayangkan kalau mereka merasa dilecehkan. Mereka kelak menjadi malas mengembangkannya.

Sempat terhenyak sebentar. Menarik nafas, kemudian siap untuk menjadi penonton yang apresiatif dan membangun kontestan. Selamat membangun dirimu kawan-kawanku di SMP!

Setelah pulang ke rumah. Saya juga berfikir menggali ingatan semasa SMP. Saat mengikuti lomba-lomba (Kontes matematika, pencak silat dll). Saya sadar, saat-saat itu lah saya mulai merasa Pe-De dan merasa berhasil menciptakan kebanggan pada diri saya.

Maaf ya kawan… Kalau ada yang tidak berkenan selama saya menonton acaramu…

2 thoughts on “PENONTON APRESIATIF

  1. Wah,, hebat Nda euy. Bisa menarik pelajaran dari kejadian yang dialami. Jadi ingat dulu pas pentas waktu TKA/TPA Al Quran di rumah. Kita juga sama tuh kejadiannya sama anak-anak SMP yang kamu tonton Nda. Tapi test case akan jauh lebih baik jika setelahnya ada evaluasi.

  2. coxon3011 says:

    @AQJ:
    Sebenarnya setiap orang selalu dapat menarik pelajaran dari setiap kasus. Cuma gak semuanya mau menulis Jae. Hehe
    Wah, ternyata ada proses yang mirip dialami beberapa orang waktu SMP. Semoga bisa memberi pelajaran kepada kita nanti saat sudah memiliki buah hati (kya…. >.<‘ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s