A-I-U-E-O

Waktu di kelas terakhir Pak Armein (PSD) tadi, saya datang terlambat karena hujan yang turun amat deras. Kemudian saya mendapat posisi tempat duduk yang kirang pewe untuk mencatat. Sehingga saya memilih untukmendengarkan saja. Toh beliau mengajar cukup seru dan mudah dimengerti, jadi nanti minjam catatan yang lain saja.

Sedang khusyuk mendengarkan, datang seorang teman saya AA, dia duduk di sebelah saya. Tidak mungkin melepaskan diri dari ngobrol asyik kalau duduk bersama dia. Dia kemudian bertanya sesuatu kepada saya, “Nda, kalau suara kita itu terdiri dari frekuensi dan amplitudo. Berarti yang membedakan A, I, U, E , O apa?”

Wah, saya sempat menjawab dengan beberapa candaan yang isinya mengarang bebas. Tapi ternyata di tengah candaan itu, membuat saya penasaran. Bener juga ya. Kalau saya bernyanyi Bintang Kecil dengan teks aslinya “Bintang kecil… Di langit yang biru…” dibandingkan dengan menyanyikannya tanpa teks (Hanya na na na na…na na na na na na…) tapi benar nadanya… Terdengar di telinga kan berbeda… Jadi kenapa kita bisa denger itu A, B, C,D… Apa nya yang berbeda? Adakah yang bisa menjelaskan kepada saya? Saya tidak mengerti…

Kenapa juga mengatakan A sambil mingkem sulit dan malah terdengar seperti I? Buka mulut untuk bilang O sedang mengatur ‘sesuatu itu’… Apa itu?

MENYICIL

Beban dalam hidup kita mungkin besar mungkin juga kecil. Bagaimana kita melihatnya. Kalau kata orang bijak, Hidup adalah Apa yang Anda Pikirkan. Ada benarnya juga. Karena mungkin pada setiap masalah yang dihadapi bukan dia, bukan mereka, bukan kamu, tapi aku masalahnya. Menggeser kacamata mungkin bisa menjadi solusi untuk diri memandang kesulitan dalam hidup dan merubahnya menjadi ringan atau menjadi kesukacitaan.

Tetapi buat orang seperti saya, yang mikirnya saja sudah sulit, harus mereduksi kesulitan dengan langkah-langkah kecil yang realistis namun progresif. Ternyata itu juga sumber kemudahan bagi saya. Itulah kenapa akhir-akhir ini saya berfikir, asyik juga ya ternyata menyicil itu. Menyicil dosa, menyicil kebaikan… Banyak hal ternyata yang bisa kita cicil dari kehidupan ini.

Menyicil bikin orang ‘tidak merasa’. Lebih relaks, lebih santai… Tugas, belajar ilmu, berproses dengan pasangan, dididik oleh orang tua, ternyata semua hal yang membentuk diriku ini adalah proses menyicil… Wha… Memang manusia ini tidak sempurna… Jadi mungkin memang begitu caranya ‘menjadi’…

Semoga hati ini selalu sabar dalam menyicil hidup…