CITA-CITA MENJADI DOSEN

Umi ku guru…

Abiku trainer…

Kakekku guru…

Aku? Dosen aja ah…

Hehe. Bukan bermaksud ikut-ikutan jadi pendidik gara-gara garis di atas semua pendidik dan berkecimpung di dunia pendidikan. Tapi saya senang sekali mengajar. Terlebih ilmu yang benar-benar saya kuasai. Kata orang banyak orang menjadi guru tetapi tidak berkembang ilmunya. Bagi saya itu worst case, meskipun tidak sepenuhnya salah. Kalaupun itu benar, semoga ilmu yang tidak berkembang itu dapat menjadi dasar orang lain berkembang.

Saya ingin menjadi pembelajar sejati. Dengan menjadi pendidik, harapan besar memiliki semangat untuk terus menerus belajar mengahadapi mahasiswa, bersikap nice saat mengajar dan menjadi dosen yang berdedikasi tinggi.

Hal terpenting menjadi dosen adalah membuat mahasiswa antusias mempelajari mata kuliah yang diajarkan. Konsepnya adalah memudahkan mahasiswa memahami ilmu yang ‘wajib’ mereka pahami sebagai calon engineer dan membuat mereka memiliki semangat untuk mempelajari bahan ajar lebih jauh. Lebih expert, dapat membuat mahasiswa lebih cerdas setelah mengikuti kuliah.

Saya juga ingin sekali menularkan semangat kepada mahasiswa setiap kali masuk ke ruangan kuliah. Karena saat ini kalau melihat dosen masuk ke ruang kuliah dengan wajah muram dan berbicara dengan suara pelan ditambah dengan slide yang sulit dibaca. Huaaa….Tampaknya semakin sulit menemukan fokus kepada bahan ajarnya. Dulu saya pernah berkhayal, saya mempunyai ruangan kuliah sendiri di ITB. Mahasiswanya bebas mau duduk dimana saja. Ruangannya warna-warni dan ber-AC (kalau di daerah panas sekali), bangkunya juga warna-warni. Ada perpustakaan kecil berkaitan dengan bahan ajar. Ada pemutar musik, video dan layar jika perlu menonton sesuatu. Semua Mahasiswa harus mencopot sepatunya agar ruangan tetap bersih. Saya akan memberinya karpet dengan warna cerah. Ujian dilakukan per BAB. Dan semua mahasiswa dibuat terbuka jika menghadapi masalah dengan bahan ajar.

IP… IP… Ya, menjadi dosen katanya harus memperhatikan IP… Tapi let’s see… Betapapun IP saya sekarang saat ini, tapi kekuatan itu masih ada. Semoga niat ini tidak kandas begitu saja.

*sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak shaleh…* Haven’t u got these All?

I NOT STUPID TOO 2

img0011.jpg

Film ini sebenarnya sangat bagus untuk ditonton oleh semua orang, terutama bagi kita yang ingin hidupnya dipenuhi aura positif dan penuh penghargaan terhadap sesama. Sampai ditulisnya postingan ini, saya baru menonton nya lima kali.

Sangat sederhana, sehingga mudah ditangkap konfliknya, juga sangat nyata.

I Not stupid Too 2 menceritakan tentang tiga orang anak bernama Tom, Jerry dan Cheng Cai. Mereka memiliki permasalahan yang kurang lebih sama, yaitu kurangnya penghargaan orang tua terhadap diri mereka. Awal film ini dimulai dengan pertanyaan, “Kapan terakhir anda memuji orang?”. Menarik, ternyata memang saat ini pujian atau quotes2 positif jarang hadir dalam kehidupan kita. Padahal kalau kita dapat pahami, arti pujian dalam kehidupan seseorang selain berarti menganggap keberadaan seseorang, juga dapat menambah semangat orang untuk melakukan hal tersebut lebih baik di kemudian hari.

Mungkin salah satu mengapa kita jarang memuji adalah ketidakmampuan kita melihat apa yang orang lain lakukan adalah sesuatu hal yang mengandung apa yang disebut ‘bakat’, atau menganggap hal tersebut adalah hal yang istimewa.

Konstruksi sosial dapat mempengaruhi apa saja hal-hal yang dianggap ‘istimewa’ oleh sebagian besar orang. Mungkin kalau di dunia pendidikan, bakat anak yang dianggap istimewa biasanya adalah kemampuan matematika, pengetahuan alam dan beberapa ilmu eksakta. Dan cenderung tidak melihat kemampuan bermain bola, bertarung, bernyanyi dan lain lain sebagai hal yang istimewa dan dapat dikembangkan secara serius.

Dalam film ini, Tom memiliki bakat mendesain blog bahkan ia mengikuti suatu kontes blog bergengsi di Singapore dan mendapatkan penghargaan sebagai blogger terbaik. Namun, apa yang dilakukan oleh ibunya? Dia tidak memuji atau mengapresiasi secara positif. Melainkan meminta Tom agar tidak terlalu sering bermain blog dan rajin belajar. Begitu juga dengan adiknya, Jerry. Jerry memiliki bakat sebagai narator. Namun hal itu tidak dianggap istimewa. Sehingga bukan menjadi bagian dari daftar ‘urusan penting’ bagi orang tuanya untuk menghadiri pementasannya. Padahal pementasan itu adalah pementasan yang paling bergengsi sekolahnya. Lain lagi dengan Cheng Cai, ia memiliki bakat kung fu. Ia sangat amat menggemari kung fu sehingga ia mempelajarinya secara khusus. Ayahnya yang single parent dan juga mantan narapidana sebenarnya adalah orang yang baik. Namun ketakutannya agar anaknya tidak mengikuti jejaknya, membuat ia khawatir dengan bakat anaknya yang satu ini. Sehingga ia sangat melarang anaknya untuk belajar Kung fu. Konflik yang tercipta karena perbedaan harapan antara orang tua dan anak di film ini ternyata memberikan pengaruh yang buruk kepada psikologi perkembangan anak-anaknya. Pada akhirnya, anak-anak  ‘mengalihkan’ bakat-bakat mereka kepada hal-hal yang lazim dianggap merugikan. Sehingga cap ‘anak nakal’ menjadi sangat melekat pada diri mereka.

Betapa pentingnya ternyata menghargai bakat dan kelebihan orang lain. Dan betapa pentingnya kita mengapresiasi kelebihan orang lain, sungguh dapat menjadi kalimat yang bisa jadi akan sangat berarti bagi kehidupan seseorang.

Besar harapan saya setelah menonton film ini, saya dapat menghargai kelebihan orang lain dan kemudian mengungkapkannya. Jadi ingat pepatah garbage in garbage out. Semakin sering seseorang mendapat perlakuan sampah, maka ia akan berperilaku layaknya sampah. Semakin sering mendapatkan perilaku intan, maka seseorang akan memiliki perilaku berharga layaknya intan. Kalau kita menemukan ‘Apel Busuk’, tidak perlu khawatir. Ambil pisau dan buang bagian busuknya, maka kita akan dapat memakannya. Kemudian kita mendapatkan manfaat kandungan apel yang luar biasa untuk tubuh kita daripada kita membuangnya dan membuat bagian lain terus membusuk.

Terakhir, saya ingin mengomentari tentang bagian film yang bagi saya paling mengharukan. Yaitu saat Jerry sedang mengumpulkan uang yang awalnya dikira untuk membeli kartu pokemon. Jerry sampai rela tidak makan di sekolah untuk menambah tabungannya. Bahkan saat waktu sudah mendekati impiannya, namun uang di kenclengannya belum

mencukupi, ia terpaksa mencuri. Saat sudah cukup, kakaknya Tom ternyata sedang membutuhkan banyak uang karena diancam oleh polisi gadungan akibat perbuatannya. Jerry yang tidak tega melihat kakaknya akan dipenjara kalau tidak membayar sejumlah uang, akhirnya memberikan uang itu ke kakaknya. Selang beberapa saat, pihak sekolah memberi tahu orang tua Jerry bahwa ia mencuri. Spontan, kedua orang tua nya memarahi dan memakinya. Kemudian ia dihukum. Kedua tangannya diberikan ke ayahnya.

Ayahnya membawa pemukul terbuat dari bambu. Lalu Jerry pun dipukuli tangannya. Sambil memukuli, ayahnya berteriak, “Siapa yang mengajarkanmu mencuri? Bukannya selama ini aku selalu membelikan apa yang kamu minta? Untuk apa kamu mencuri?”. Dengan nada tangis penuh ketakutan Jerry menjawab, “Aku hanya ingin membeli waktu ayah. Setahun aku menabung ternyata tidak cukup juga untuk membeli 2 jam waktu ayah untuk hadir ke pementasan akhir sekolahku…Aku hanya ingin membeli 2 jam waktu ayah. Maafkan aku…”. Ya, pernah sebelumnya Jerry meminta ayahnya mengajarkan matematika. Namun terpotong karena sang ayah ditelepon untuk memberikan presentasi keesokan harinya. sambil menunggu ayahnya menelepon, Jerry mengeluarkan kartu pokemonnya. Sang ayah lalu menghentikan pembicaraan di telepon dan berkata, “Jerry! Kamu harus berkonsentrasi belajarnya! Dengar? Orang membayar ayah $500 untuk mendengar ayah presentasi besok. Kamu harus serius belajarnya. Kalau tidak ayah tidak bisa mempersiapkan presentasi ayah besok hanya karena kamu tidak bisa pahami apa yang ayah ajarkan!”

***

Semoga mulai hari ini kita dapat memulai membiasakan diri

untuk menghargai kelebihan orang lain dan memujinya…”Yup, terimakasih telah membaca postingan ini! Anda adalah orang yang sangat apresiatif terhadap tulisan lepas saya! ” 🙂 **Simple Thing…But Uneasy for Some**

PILIHAN DAN TANGGUNG JAWAB

Beberapa waktu lalu, saya merasa kalut dengan hidup saya. Kalut disini seolah hidup saya tidak memiliki tempo atau bahkan lebih tepatnya, tidak terkendali. Ada banyak sekali tugas yang meminta untuk diselesaikan. Namun ternyata saya tidak pandai memilih mana yang seharusnya dikerjakan terlebih dahulu. Ini bukan hanya urusan waktu, namun resiko jika satu pekerjaan didahulukan daripada pekerjaan lain. Memilih memang hal yang sederhana. Ya, memang hidup itu sederhana saja. Sesederhana menentukan satu dari banyak pilihan yang ada atau kita ada-adakan, kemudian menanggung resiko atas pilihan tersebut.

Cara menanggung resiko inilah yang pada akhirnya menjadi sangat representatif untuk membedakan satu manusia dengan manusia lainnya. Karena hanya hal tersebut yang dapat dengan mudah dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Menyesal mungkin menjadi keniscayaan dari ketidaksempurnaan manusia.

Godaan hampir selalu hadir dalam setiap usaha atau kerja keras kita. Sayangnya, sebagai manusia kita tidak bisa menolak dikaruniai otak untuk berfikir, hati untuk merasa dan nafsu untuk menjadi ‘bergairah’ dalam menjalankan kehidupan. Sehingga ketiganya dapat menjadi pintu gerbang masuknya berbagai godaan.

‘permisif’ terhadap berbagai godaan yang hadir, berarti mengijinkan diri kita untuk memiliki karakter yang tidak ‘on the track’. Ini bukan masalah ‘fleksibel’, tetapi proses terbentuknya sebuah mentalitas. Bukan lingkungan, bukan Tuhan, bukan si A, si B bukan siapa-siapa. Hanya kita, manusia, yang bertanggung jawab terhadap siapa nantinya diri kita ini.

Sudah selayaknya kita selalu mempertanyakan apa yang sudah dilakukan oleh diri kita selama ini. Sudah selayaknya kita menilainya. Sudah selayaknya juga kita menentukan sikap berikutnya.

Kalut… Apa menjadi sebuah tanda saat diri ini kehilangan jalan-Nya?

CANDU BOLOS

Mungkin mahluk bernama Adinda ini masih belum dapat dikatakan sepenuhnya mantep sebagai manusia dewasa. Masih ada saja ‘kenakalan-kenakalan’ ala remaja SMA yang masih melekat di diri. Salah satunya membolos. Kalau dianalisa, membolos bukan hal yang memberikan untung. Kecuali, kalau emang badan lagi bener-bener gak fit.

Tapi yang namanya bolos selalu diakhiri dengan penyesalan. Karena selalu merusak ritme kuliah yang dibangun sebelumnya. Lebih jauh, bolos kadang membuat candu. Jika sudah bolos sekali, perasaan masih bisa mengakali alasan kenapa harus bolos. Supaya tidak terlalu dihinggapi rasa bersalah. Namun kedua, ketiga, bisa membuat putus asa kalau masuk ke kelas lagi. Tidak nyambung dengan pokok bahasan, sehingga susah sekali untuk fokus.

Bolos tidak pernah direncanakan di awal semester. Mungkin ini urusan iman. Katanya berencana saja memang tidak cukup. Jadi selain berencana, memang harus menjaga iman untuk tetap konsisten. Itu mungkin yang mahal.

TERINSPIRASI, LALU MENCOBA

Beberapa waktu yang lalau saya mengikuti kuliah DSP Pak Armein. Kemudian dia bercerita tentang blog barunya. Saya kemudian penasaran dan membuka blog nya. Menarik sekali. Bahkan saat ini menjadi kewajiban saya untuk membukanya setiap kali connect ke internet.

Hebat sekali. Simple tetapi penuh makna. Saya mendapatkan semangat menulisnya. Semoga dengan blog ini, kelak saya dapat menumpahkan semua pemikiran saya dalam bentuk tulisan dan berbagi. Mungkin sekarang masih sangat cupu. Tapi who knows? 5 atau 10 tahun lagi? Hehe. Amiin.

Welcome to my site! And thanks for appreciate…