Eyang Apa dan Eyang Ema

Tadi malam, disapa ma sepupu di twitter untuk skype an ma eyang apa (sebutan untuk kakek) yang lagi di rawat di Rumah Sakit. Untuk kesekian kalinya eyang apa masuk rumah sakit. Dan di video yang ditampilkan di skype, tepat disampingnya ada eyang ema (sebutan untuk nenek) yang selalu setia menemani eyang apa. Perawat eyang apa dari dulu sampai sekarang.

Satu hal yang selalu terpikir di benak saya, terutama kalau eyang apa sedang sakit, adalah kesetiaan eyang ema dan pancaran kasih sayang antara keduanya yang gak pernah pudar dengan waktu. Di usia eyang apa yang sekitar 80an, eyang ema 70an, mungkin pernikahan mereka sudah berumur lebih dari 50 tahun.

Ingatan eyang apa sudah melemah. Tapi satu yang selalu dia ingat. Istri sayah. :D Dedeh (nama asli eyang ema). Selalu dia cari dimana istrinya berada. Walaupun sebenernya eyang ema hanya berbeda ruangan di rumah atau gedung yang sama. Tapi eyang apa selalu ingin memastikan keberadaan eyang ema. More

Kekuatan Pikiran

Sebenernya saya bukan tipe orang yang hobi datang ke pelatihan-pelatihan yang trainernya berjas rapih, membakar semangat dan aneka training pengembangan diri lainnya. Tapi saya pernah mendengar tentang kekuatan pikiran dari salah satu training macam itu.

Dan semakin lama hidup, semakin mulai memahami bener gak sih kekuatan pikiran itu ada?

Ada pelatihan yang bisa membuat peserta nya yakin untuk jalan di atas api tanpa merasa kesakitan atau takut akan panas. Bener kah?

Sekali lagi, saya gak pernah ikut training begituan, jadi gak tahu. :) Tapi yang pasti, saya percaya. Kalau pikiran kita itu berperan sangat penting dalam kehidupan kita. Yang bisa membuat kita berbeda dengan mahluk Tuhan lainnya, ya pikiran kita itu. Makanya wajar kalau itu disebut satu kekuatan.

Pikiran bisa berubah karena kita merasakan sesuatu yang berbeda, mendengar sesuatu yang berbeda dan melihat sesuatu yang berbeda. Tapi tahukah? Sebenarnya tidak begitu. Sebenernya kita bisa melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang berbeda karena pikiran kita mengijinkan kita untuk itu. Bulak balik? Yes, you’re totally right.

Nah, sekarang, mana yang lebih kita percaya? Pikiran yang mengubah ketiga indra tersebut? Atau indra tersebut yang merubah ppikiran kita?

Seperti Sendiri, Seperti Bersama

Pernah gak sih ngerasain kalau kita lagi punya banyak masalah. Dan gak ada satu orang pun yang mengerti kita? Kadang kalau lagi gitu, merasa sendiri banget. Dan semuanya jadi terasa semakin berat.

Tapi pernah juga gak ngerasain kalau kita lagi menjadi fokus banyak orang? Seolah semua orang di lingkungan kita bekerja atau berusaha memberikan sesuatu untuk membuat kita senang? Seolah keinginan kita dibantu oleh banyak orang sehingga akhirnya dengan ‘tampak’ mudah dapat terwujud?

Pernah nggak?

Jalan-Jalan di Korea (Part. 2)

Lagi, saya ingin menulis tentang perjalanan saya untuk bersantai melupakan sejenak rutinitas di lab. Jalan-jalan di Korea. :) Melanjutkan postingan sebelumnya. Kali ini saya akan menulis tentang salah satu tempat hiburan besar di Korea. Everland. Mungkin bisa dibilang sejenis Ancol. :-? Hmm. Bisa gak yah. Hehe.

Everland terletak di Kota Yeongin. 40-60 menit dari Seoul. Keterangan menuju tempatnya ada di link ini. Hehe, sebenarnya keterangan lainnya juga bisa dilihat di website tersebut. :P Gak usah ditulis panjang-panjang disini.

Tapi, karena saya lagi bosen, jadi saya tulis lah disini. :) More

Jalan-Jalan di Korea (Part. 1)

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah insiden, haha, insiden yang menyenangkan. Dimulai dengan niat mengambil barang titipan dari Ummi yang dibawakan oleh orang tua murid SMP Darul Hikam tempat Ummi saya bekerja. Kebetulan beliau dan anak-anaknya sedang berlibur ke Korea Selatan. Malam itu jam 11 KST di Hyundai Residence Seoul saya bertemu dan menghambil titipan. Tapi kami akhirnya mengobrol panjang tentang rencana perjalanan mereka selama di Korea. Dan akhirnya sepakat untuk bersama jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di Seoul dan sekitarnya. Dimana saya menjadi guide dadakannya. Karena mereka kesini tanpa travel.

Dan inilah tempat-tempat di Seoul yang kami kunjungi di hari pertama. Dan menurut saya semuanya sangat menarik untuk dikunjungi… More

Saya, Bagian dari Umat Islam di Indonesia

Bagaimana hukum mengatur perbedaan keyakinan? Kita tidak bisa menyamakan semua hukum di dunia. Karena kesepakatan bersama masyarakat yang harus membentuk hukum. Dan kemudian dijalankan sesuai kesepakatan, secara fair. Kalau di Malaysia, hukum mengikuti syariat Islam untuk orang Islam di Malaysia, ya sudah kesepakatannya begitu. Tapi di Indonesia? Kita bukan Malaysia. Kita punya hukum sendiri, yang berdasarkan pada pancasila. Pada UUD. Dan peraturan lainnya.

Pertanyaan yang sangat mengganggu dalam diri saya saat ini adalah, apakah kebebasan beragama di Indonesia itu dijamin? Bagaimana caranya? Saya bukan anak hukum. Tetapi apa yang diajarkan dari SD sampai kuliah, saya tahu, ada 5 agama yang diakui di Indonesia. Dan kelimanya dilindungi undang-undang mengenai kebebasan beragamanya. Lantas bagaimana dengan agama lain? Khong hu cu misalnya? Ahmadiyah?

Ok. Saya menyebut aliran yang saat ini sedang sensitif di Indonesia. Ahmadiyah. Mungkin sebagian orang akan bilang, lah itu kan Islam juga. Nah, disini lah yang membuat saya bingung. Saya sebagai Muslim, kemusliman saya didasarkan pada syahadat yang mengakui Allah sebagai Tuhan saya. Dan Muhammad sebagai nabi saya. Implikasi dari bersyahadat itu salah satunya adalah menjalankan dan meyakini ajarannya, Alqur’an dan Sunnah. Dalam Al-Qur’an jelas, mengatakan bahwa Rasulullah sebagai nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi selain dia, yang ada hanya ulama. Tidak ada lagi wahyu yang turun dari Allah dan menjadi kitab, selain Al-Qur’an dan pada masa setelah Rasulullah wafat. Selain wahyu yang turun berangsur-angsur kepada Muhammad.

Sedangkan Ahmadiyyah mengakui nabi baru, yaitu Ahmad. Dan meyakini wahyu-wahyu baru yang diterima oleh Ahmad ini. Maka, jelas, ajaran ahmadiyah secara mendasar sudah beda dengan Islam. Seperti halnya Islam dengan Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Mungkin urusan lainnya, ya sama. Berbuat baik kepada manusia dll. Tapi secara mendasar, berbeda. Saya jadi ingat tentang Kristen dan Islam. Orang Kristen kan tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi. Tapi Islam mengakui adanya Isa Al-masih sebagai nabi. Dan injil sebagai kitab Allah namun dijelaskan di Injil akan ada nabi penutup, yaitu Muhammad. Mungkin bedanya seperti itu yah. Jadi dah beda agama aja itu mah. Dan tidak perlu diperdebatkan siapa yang benar. Cukup difahami aja, bahwa Islam dan Kristen itu berbeda. Islam dan Ahmadiyah itu berbeda. More

Kita Biasa Mengenalnya dengan Imlek

Yup. Imlek. Kalau di Indonesia, libur panjang yang sedang saya benar-benar nikmati saat ini di Korea lebih dikenal dengan nama Imlek. Sedangkan disini populer dengan nama Seolal (sebenarnya tulisannya Seolnal). Yang mana Seolal itu adalah tahun baru dalam kalender lunar. Ini sepertinya adalah libur terbesar di Korea. Entah sebenarnya lebih besar mana dengan libur Chuseok. Tetapi keduanya sama-sama besar. Libur di kalender 3 hari. Semua orang berkumpul dengan keluarga.

Sebagai foreigner yang tidak biasa merayakan imlek. Liburan Seolal kali ini benar-benar libur bur bur. :) Karena ditaruhnya menjelang weekend. Jadi libur 3 hari ganjil menjadi 5 hari (hehe. bahasa opo iki).  More

Nyari Kosan di Cheongju

Saya ingin sedikit menceritakan pengalaman saya saat mencari tempat tinggal di Korea Selatan. Tepatnya di kota saya, Cheongju. Beberapa alternatif tempat tinggal di Korea adalah sebagai berikut : asrama (기숙사), gosiwon (고시원), one room (원룸), two room (투룸), gositel (고시텔),   apateu (아파트) dan villa (빌라). Saya mencoba mengurutkan dalam penyebutannya, yaitu saya urutkan berdasarkan harga. Bisa saja berbeda di berbagai tempat.

Penjelasan singkatnya. Hampir seluruh universitas memiliki asrama di Korea. Bahkan beberapa memiliki asrama khusus untuk mahasiswa asing. Dan bisa dikatakan, asrama adalah pilihan termurah dan dengan fasilitas yang cukup untuk hidup sebagai mahasiswa di Korea. Sedangkan gosiwon adalah kamar dengan ukuran yang sangat kecil. Dulunya biasa digunakan oleh orang-orang untuk mengasingkan diri dalam rangka mempersiapkan ujian. One room dan two room lebih dikenal dengan studio di negara-negara lain. Dimana one room memiliki satu ruangan besar dan two room memiliki dua ruangan besar. Ruangan lainnya biasanya sudah menjadi standar, yaitu terdapat dapur dan kamar mandi yang menyatu. Sesuai harga yang ditawarkan, ada yang sudah dilengkapi dengan peralatan standar seperti kompor, kulkas, mesin cuci, heater bahkan ada juga yang memberi AC. Sekali lagi, benar-benar tergantung harga yang ditawarkan. One room dan two room ini juga dapat ditemukan pada villa. Hanya saja villa bentuknya semi apateu dengan ukuran secara keseluruhan lebih kecil. Biasanya satu villa terdiri atas puluhan kamar saja. Dan sistem keamanannya lebih baik daripada one room atau two room di rumah-rumah orang korea. Gositel adalah gosiwon versi bagusnya. :) Baru menurut saya sih. Soalnya beberapa gositel yang saya liat, lebih bersih, nyaman dan privacy lebih terjaga. Apateu tidak perlu dijelaskan, itu sama saja dengan apartement di Indonesia. :) More

Obrolan Suatu Sore di Korea

Ingin sedikit bercerita tentang hasil pembicaraan santai dengan Professor saya, di kampus, CBNU. Sedikit gambaran, Professor saya sudah cukup tua. Kiprahnya di dunia Power Electronics mungkin sama seniornya dengan usianya. Orangnya bijak dan santai. Tidak seperti orang Korea kebanyakan. :) Mungkin itu sebabnya saya betah disini. Karena Professor saya.

Obrolan diawali dengan topik thesis saya. Beliau mengalihkan konsentrasi yang sebelumnya tertuju pada monitor, kepada saya, dan bertanya, “Apa yang paling menarik buat anda?” Kira-kira begitulah pertanyaannya. Lalu saya jawab. Dan saya jelaskan tentang kebingungan saya, dasar apa yang bagus untuk memilih topik? Ketertarikan saja? Atau kebutuhan Negara? Karena, saya ingin sekali, ilmu yang saya pelajari juga bermanfaat untuk membangun bangsa. More

Korean Family (1)

Ingin sedikit (yakin sedikit? :D ) menceritakan tentang bagian dari kehidupan di Korea. Korean Family. Ya, bagaimana akhirnya saya mengenal seorang keluarga korea yang begitu baik pada saya. Kenapa saya bisa mengenal mereka? Di awali dengan mengikuti les bahasa korea di Bandung. Guru saya seorang Korea kristen dan memiliki hubungan yang dekat dengan beberapa orang di gereja-gereja Korea. Guru saya ini sangat senang saat mengajar saya. Saya tidak tahu mengapa. Katanya belajar 3 bulan yang berkesan bagi beliau.

Beliau sangat perhatian dengan keberangkatan saya ke Korea. Dari mulai bertanya tentang tempat tinggal, dia berusaha mencarikan tempat tinggal sementara. Karena waktu itu saya sudah membeli tiket pesawat 1 minggu sebelum saya dapat masuk ke Asrama. Bahkan dia memberikan kontak temannya yang siap membantu saya selama di Korea. What a kind of him. Even we’re different, he doesn’t care the differences. Just help me. So do I. More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.