Archive for ngeliat dunia

Lari?

Seorang teman bercerita bahwa saat ini dirinya sedang lari dari apa yang seharusnya ia hadapi. Saya sepakat. Tidak semua dalam hidup harus kita hadapi. Kita harus tahu kapasitas diri, kapan harus berjuang kapan harus berhenti. Kalau satu manusia memperjuangkan banyak hal di dunia ini. Kebayang hebatnya, superman pun mungkin gak bisa. Karena setiap manusia sudah punya bagiannya masing-masing. Menentukan peran dan posisinya.

Kembali lagi ke asal judul tulisan ini, yaitu lari. Tidak selamanya lari itu salah. Lalu mengapa konotasinya begitu negatif ketika kita mendengar kata lari? Menurut saya, lari yang berkonotasi negatif itu adalah lari dari apa yang seharusnya dilakukan menurut kesadaran setiap kita. Saya yakin, setiap orang berfikir. Dan memiliki banyak kesadaran. Dengan jenis dan kapasitas yang berbeda-beda. Kita bisa lari dari cemoohan orang tentang kita. Kita bisa lari dari tuntutan banyak orang terhadap kita. Kita bisa lari dari tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Tapi kita tidak bisa lari, dari kesadaran kita.

Bukankah yang menyakitkan itu adalah berperilaku tidak sesuai dengan kesadaran yang kita miliki? Bukannya yang menyakitkan itu, kegagalan yang kita tahu pasti penyebab kegagalannya? Bukannya yang menyakitkan itu ketika kita tidak bisa menyelaraskan apa yang kita yakini dengan yang kita lakukan?

Kesadaran itu anugrah,,, derivasi dari akal yang Tuhan berikan pada kita,,,

Bersyukurlah atas kesadaran yang kita raup berbentuk hikmah dari setiap kejadian yang berkesan dalam hidup kita. Dan berjuanglah untuk setiap kesadaran yang kita miliki. KArena kesadaran kita itu memberikan tanggung jawab baru pada diri kita. Dalam konteks ini, saya imbau, jangan lari!!! :D

Leave a Comment

ORANG (SUDAH) TUA BAHAGIA

Hari ini saya bertemu kakek dan nenek. Mereka berusia 70an dan 80an. Kedatangan saya dan beberapa teman ke rumah tuanya disabut hangat dan penuh keceriaan. Senang, kakek nenek itu memancarkan energi yang mungkin lebih muda daripada saya sendiri.

Obrolan dimulai dengan cerita nenek tentang kakek yang akhir-akhir ini sakit batuk. Betapa bandel sang kakek yang selalu tidak mau diatur, karena merasa bukan orang sakit. Saya hanya tersenyum dan ikut tertawa dengan canda mereka. Indahnya melihat kakek dan nenek di usia yang sudah sangat senja, masih seperti pasangan muda yang hangat dan penuh gairah.

Tidak ada yang terlalu penting yang kami bicarakan. Hanya obrolan ringan seputar kegiatan mereka sehari-hari memanfaatkan waktu tua mereka berdua di rumah. Bagaimana lucunya sang kakek yang selalu berusaha bersikap seolah pendengarannya masih sangat baik. Tentang nenek yang was-was setiap kali kakek pergi jumatan sendirian.

Tapi yang sangat luar biasa adalah pancaran energi kebahagiaan mereka yang dapat menginspirasi saya untuk merasa pantas hidup dengan bahagia. KEbahagiaan yang tak lekang oleh waktu. Karena sepertinya bukan anak-anak mereka, bukan rumah besar mereka, bukan harta yang dimiliki dan bukan prestasi yang diraih sepanjang usia yang membuat kebahagiaan mereka sampai di hati kami. Tetapi hati yang ada di balik dada mereka. Hati yang selalu dipenuhi rasa syukur atas pencapaian apapun dalam hidup.

Di penghujung waktu bersama mereka, tak lupa mereka mendoakan kami. Semoga tercapai semua cita-citamu, Nak. Ibu Bapak (begitu mereka menyebut diri mereka) doakan. Terima kasih atas kunjungan kalian,,,

*_*

Ingin seperti mereka,,,

Leave a Comment

MENGUATKAN SAYAPKU

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa hidup membutuhkan pegangan. Hidup itu sangat kompleks. Dan membutuhkan seni tinggi untuk mengarunginya. Masalah dalam hidup unik dan tidak ada habisnya. Memaknai salah satu ayat dalam Al-Qur’an, bahwa masalah itu selalu ada. Selesaikanlah satu urusan kemudian selesaikan urusan yang lain. Insya Allah, setiap masalah yang kita hadapi akan mendewasakan kita.

Masalahnya, pegangan kita itu apa? Sepanjang usia saya, hampir 21 tahun, saya mengenal cukup banyak orang. Ternyata tidak semua orang hidup dengan pegangan yang jelas. Sehingga hidupnya menjadi tak tentu (teu puguh). Yang tak tentu itu biasanya memiliki satu pegangan (boleh kita sebut pegangan). Yaitu lingkungan yang ia anggap ideal. Yang dilakukannya adalah meniru.

Pegangan yang jelas juga tidak serta merta hadir. Namun melalui proses yang panjang. Saat kecil, apa sih yang kita jadikan pegangan dalam hidup? Saya rasa jawabannya adalah meniru. Dalam hidup ada proses pencarian. Anggap saja meniru itu adalah bagian dari proses pencarian.

Saat mulai berorganisasi, yang saya lakukan adalah meniru. Meniru abi, meniru ummi, meniru orang-orang yang saya kagumi. Namun pada zamannya, saya menyadari. Bahwa saatnya bukan lagi meniru. Tapi mulai memilah.
Mana yang cocok untuk ditiru, dan yang tidak. Saya mulai menyadari, bahwa yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk saya.

Sampai akhirnya saya terjebak dengan membandingkan diri saya selalu dengan orang lain. Dalam batas tertentu mungkin ada baiknya. Namun kalau berlebihan kadarnya, seringkali membuat kita tidak berkembang. Maka bagi saya jawabnya adalah, terbanglah Adinda. Terbanglah sebagai Adinda Ihsani Putri sebagaimana mestinya…

Saat memilih untuk terbang sendiri, saya kemudian meragu. Sudah cukup kuatkah sayap ini? Angin mana yang akan saya ikuti? Daratan mana yang akan saya tuju? Disini saya membutuhkan nilai. Nilai yang benar-benar dapat saya pegang. Yang selalu dapat menuntunku dalam segala situasi. Dan insya Allah, nilai itu adalah Islam.

Comments (1)

KATA PAK HABIBIE

Semakin gencar kampanye capres dan cawapres akhir-akhir ini, membuat saya sedikit tertarik (lagi) dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Tapi alih-alih belajar banyak tentang politik, saya malah semakin banyak mengkritik keadaan. Habisnya, sepeti tidak ada pasangan yang pas di hati. Kalau kata adek saya yang berusia 12 tahun sih, “Teh, mereka teh kayak anak-anak yah..”

Bayangin, anak kecil saja bilang calon-calon pemimpin kita tingkahnya kayak anak-anak. :) Dan setelah dipikir-pikir, iya juga. Pengungkapan ide dan gagasan para capres dan cawapres jauh lebih sedikit dibandingkan pengungkapan kelemahan calon-calon pesaingnya. JAdinya kok malah seringan ngeliat mereka perang opini gak jelas dibandingkan terkagum-kagum dengan ide dan gagasannya.

Pencarian data dan fakta untuk menentukan pilihan kemudian stuck ketika saya semakin terkagum-kagum dengan beberapa sosok politikus di luar pasangan yang tersedia sekarang. :P Yaitu Rizal Ramli dan Prof. Dr. B. J. Habibie. Namun informasi tentang Rizal Ramli masih terlalu sedikit yang saya tahu. Tidak seperti Habibie yang nyaris banjir siaran di beberapa TV.

Sosok Habibie menurut saya, sangat berbeda dengan sosok pemimpin yang ada di negeri ini. Ia begitu apa adanya, cerdas, powerful, dan banyak lah menurut saya (wong saya ini pengagumnya. pasti banyak lah ya). Terlalu banyak pemimpin yang hidup di atas kenaifan. Jadi kurang sampai pengaruhnya di hati saya. Tidak seperti bapak yang satu ini.

Dalam sebuah wawancara khusus, saya selalu teringat pesan Pak Habibie. Ada dua hal yang ia ajarkan pada keponakannya, Adi Soebono, yang kemudian terekam dalam memori saya. Pertama, selalu hormat kepada orang yang lebih tua. Kedua, Fokus. Ia mengibaratkan batu yang terus menerus ditetesi air. Walaupun air yang menetes itu hanya sedikit demi sedikit, namun kalau berlangsung dalam waktu yang lama dan tetesannya tepat pada sisi batu yang sama. Akhirnya batu itu akan berubah bentuknya. Menjadi lebih cekung pada bagian yang terkena tetesan terus menerus.

Fokus nda! Kejar dan terus perjuangkan mimpi…

Comments (2)

SETIDAKNYA MASYARAKAT MULAI BERUBAH (little)

Alhamdulillah, walaupun hanya quick count, kita saat ini sudah bisa melihat gambaran perkiraan akademis hasil pemilihan umum Indonesia. Kebahagiaan saya ini, jangan sampai membuat anda berfikir kalau saya salah satu pendukung partai pemenang tersebut yah. Hehe.

Pemilu tidak berjalan dengan sangat lancar. Banyak orang yang berhak memilih tetapi tidak terdaftar di DPT, ada yang belum sampai logistik seperti di Papua, ada yang sudah mendapatkan A5 tetapi tetap tidak bisa memilih, masih saja ada money politik, dll. Ini realita kita saat ini. Akan kah kasus-kasus di atas dapat menggugat hasil pemilu sekarang? Saya hanya dapat berkata, KPU memang belum bisa menyelenggarakan Pemilu dengan baik. Tapi harus saya akui juga, sebagai warga negara, i don’t have any idea about how to fix that.

Tetapi terlepas dari itu semua, saya merasakan beberapa indikator kemajuan pada Pemilu kali ini. DIbandingkan sebelumnya. Karena saya mulai mengamatinya baru 2004 dan 2009 ini. Salah satunya adalah turunnya prestasi beberapa partai yang memang tidak memiliki kekuatan ide di tengah masyarakat. Dalam hal ini, saya mengabaikan apakah ide tersebut berhasil atau tidak. Tetapi yang penting adalah ada usaha untuk memberikan solusi terhadap  permasalahan. Dan mungkin memang jarang kita temukan partai-partai yang konsentrasi terhadap hal itu. Sebagian besar partai memberikan janji, sambil mereka pun berfikir bingung sendiri, ‘gimana ya cara merealisasikannya…uhm…

Masyarakat kini sudah lebih pintar. Kalau dulu mungkin masih banyak desa-desa yang bisa dibikin menjadi satu suara, tapi untuk sekarang hal tersebut sudah menjadi sangat sulit. Masyarakat pun tidak lagi mudah untuk digiring ke suatu partai dengan banyak janji menggiurkan. Kita sudah dapat menilai tingkat reability dari janji-janji tersebut. Yang kosong, akan terasa kosong. Yang berisi akan terasa berisi. Boleh saya katakan, dan ini bisa menjadi peringatan untuk para politikus, masyarakat kita saat ini sudah bukan masyarakat di tahun 1999 atau 2004. Atau khususnya untuk Megawati, masyarakat kita saat ini sudah tidak sama dengan yang bapaknya dulu pimpin. Ini 2009! People change! Walaupun perubahannya masih kecil. Tidak terlalu besar. :D

Kedepannya, saya berharap proses demokrasi di Indonesia akan menjadi lebih baik. Dengan pendukungnya adalah masyarakat-masyarakat yang tinggi tingkat pendidikannya. Sehingga meningkatlah keberdayaannya untuk menggapai cita-cita dan keinginannya. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan figur pemimpin untuk menjadikan bangsa kita maju.Tetapi kita secara pribadi dapat ikut serta menentukannya.

Hal ini bisa dijadikan program kerja yang progresif untuk kemajuan bangsa kalau setiap partai politik mengerti. Memajukan suatu bangsa adalah memajukan kualitas individunya. Bukan menurunkan BBM nya, sembakonya. Yang dinaikkan adalah harkat dan martabat manusianya.

Jayalah Indonesia…!

Leave a Comment

PEMILU HAHAY

hahay...

hahay...

Akirnya beres juga menyontreng-nontreng di pemilu ini. Kesan yang didapat:

1. Gile. Pemilu di Indonesia kek nya mahal banget yah. Kertasnya tebel, gede, warna-warni dan ada empat lembar pulak. Haduh susah ya kalau tidak ada partai yang akomodatif. Semua pengen mimpin, pengen maju. Terus dipikir-pikir semua TPS bikin tenda, bayar, kursi bayar. Duh, kenapa gak bikin TPS di sekolah-sekolah aja yah? Yah, terserah lah. Mana ada yang narik masa make dangdutan pula.

2. Buat para caleg bagus tapi gak kepilih. Yeee! Salah sendiri kagak promosi? Gak punya duit? Mikir kok semua harus pake duit. Kreatif dikit lah. Cuti 3 bulan kek, terus keliling daerah dapil buat share ide.  Haha. Enak ya ngomongnya saya ini. Maksud saya, liat dong Obama yang kampanye nya lewat facebook, internet,,, dll. Ada juga walikota mana gitu di AS yang kampanyenya datengin ke rumah2, kantor, share ide dll :P Lagian masih ada kok pemilih kayak saya, yang gak ngaruh ma iklan-iklan partai politik yang lebay.

3. Gak kebayang kalau orang gak ngikutin pemilu. Saya aja yang cukup aktif mencari tau, pas milih, masih rada-rada bingung.

4. Sial, tadi saya ngeliat ada beberapa pemilih, yang sebelumnya diomong-omongin ma orang. Pas agak dekat, bilang gini… Awas yah, inget milih saha… wew! Mana Bibi yang bekerja di rumah juga curhat lagi. Dikasih beras pagi-pagi ma calegnya. Dan akhirnya dia milih calegnya. Wadooooooooo! Pusing yagh…

Tapi anyway… Setidaknya saya lega… Sudah ikut menentukan nasib bangsa dengan cara memilih… Yang terbaik menurut saya. Menurut saya, yang terbaik itu yang:

1. Partai dimana ‘MUNGKIN’ tumbuh pemimpin-pemimpin yang cerdas, yang berilmu, yang amanah,,,

2. Ber-title ST, MT, Dr, dr, Phd, dan sejenisnya. Haha. Ini mah alasan yang sulit untuk saya jelaskan.

3. Yang kalau saya sebut nama partai dan calegnya, gak bikin Abi emosi. Hahay.

Seru juga yah pemilu… Baru pertamax soalnya…

Semoga Indonesia menjadi lebih baik lah abis pemilu ini… Saya mah cuma bisa belajar dan bekerja keras untuk bangsa ini… Semoga lebih bermanfaat daripada lima menit tadi menyonteng-nyontreng… :D

Leave a Comment

GOLDEN IN, GOLDEN OUT

“Saya juga mau… Tapi saya gak tahu mesti ngapain…”

Kalimat di atas merupakan kalimat yang sederhana. Tetapi cukup berbahaya kalau tidak segera ditemukan jawabannya. Kenapa berbahaya? Karena seringkali kejadian-kejadian bunuh diri, membunuh orang lain, menggunakan cara-cara haram dalam mencapai keinginan, dimulai dari kesenjangan antara kemauan, kemampuan dan kesempatan.
Manusia cenderung bertindak sesuai dengan basic apa yang dia tahu. Misalnya saja begini, ada sebungkus mie di atas meja, berwarna hijau bungkusnya. Anak bayi berumur 1-2 tahun menyukai warnanya, kemudian mengangkat-ngangkat tangannya untuk meraih. Setelah jatuh, ia kebingungan membukanya. Mungkin yang terjadi hanya mengacak-acak atau membuat bungkusnya basah karena berusaha menggigit tapi tidak cukup kuat. Anak SD yang belum belajar menggunakan kompor, dapat mengambilnya dengan mudah. Karena lapar, tidak bisa masak dan tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan, ia meremas mie kering tersebut, membumbuinya dan memakannya begitu saja. Bapak-bapak yang kelaparan di tengah malam. Akan merebusnya, memakannya. Anak gadis yang kreatif, mungkin akan menambahkan rawit dan sayur untuk meningkatkan selera.
Dari kesemuanya, intinya, setiap orang akan bertindak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Keinginannya sama, makan. Pengetahuan manusia berkembang setiap waktu sesuai dengan informasi yang dia terima. Dulu saya suka membaca buku-buku yang menurut ayah saya ‘aneh’, dan mungkin kurang baik, tidak perlu dibaca. Kemudian beliau menjelaskan tentang garbage in, garbage out. Bahwa otak kita akan merekam hal-hal apa saja yang berkenaan dengan kita. Kemudian otak itu akan melandasi tindakan kita. Kalau kita masukan informasi sampah, maka perilaku kita tidak jauh dari sampah. Sebaliknya, kalau kita terus menerus memasukkan otak kita informasi yang golden, maka tindakan kita pun akan menjadi tindakan golden.

Jadi untuk memperbaiki keputusan-keputusan, sikap-sikap dalam hidup kita, sebenarnya terdapat banyak sekali cara. Salah satunya, terutama untuk kualitas tindakan kita, kita dapat mencermati lagi informasi-informasi yang masuk ke dalam diri kita. Entah dari bacaan kita, tontonan kita, tempat bergaul kita, dll.

Selain memperbaiki sumber informasi-inforasi tersebut, jangan lupa untuk memperkaya sumber informasi. Supaya kita gak bilang ‘no idea‘ atas masalah kita sendiri. Menjadikan membaca, beridskusi dan bergaul menjadi kebiasaan bagi saya itu good idea juga. :D

Semoga kita menjadi generasi-generasi emas… Bukan generasi sampah…

Leave a Comment

HAL-HAL KECIL DI KITA

Tadi, setelah beberapa hari tidak keluar rumah, saya mencari makan di luar. Di bilangan Imam Bonjol. Ketika makan, saya perhatikan tempat makan sudah sangat penuh. Dan menarik, saya menemukan orang-orang berseragam PNS secara berkelompok. Terdapat beberapa kelompok. Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 13.30. Mereka, sama seperti saya, belum memesan apa-apa dan mengobrol seru dengan teman-temannya.

Di lain pihak, saya teringat kejadian kemarin siang. Saat Anas menolong saya untuk mengumpulkan tugas kuliah di salah satu bagian administrasi laboratorium kampus. Pada pukul 15.00, pegawai tidak ada. Uniknya, belum pulang makan siang. Bukan sudah pulang kerja. Oh God!

Kedua hal di atas hanya capture, dari banyak capture yang mungkin anda sekalian pun punya. Mereka tidak takut. Padahal sudah ada stasiun TV yang pernah membuat acara salah satunya memergoki PNS-PNS yang keluar di luar jam kerja. PErtanyaan saya, Apakah jumlah PNS terlalu banyak hingga pekerjaan tiap-tiap orang menjadi sedikit? Atau bagus tidak kinerja PNS tidak terlalu signifikan mempengaruhi keuntungan atau kerugian badan dimana ia bekerja? Atau gaji mereka terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan yang diberikan kepada mereka? Atau? Masih banyak lagi pertanyaan yang bergelut di kepala saya.

Tapi terlepas dari itu semua. Yang saya yakin, semua sebenarnya bisa dikembalikan ke diri masing-masing individu. Sepanjang makan siang, saya terus mengomentari gelagat para PNS tersebut. Tampaknya rekanan bicara saya sudah mulai bete dengan komentar-komentar saya.

Karena takut, akhirnya saya menutup komentar saya dengan, “Mas, tar kalau kita kerja, kalau bisa jangan kayak gitu yah… Bukan kalau bisa… Tapi harus tidak seperti itu…” Yup, kita harus bisa bertanggung jawab atas waktu kita untuk bekerja membuat perusahaan atau badan dimana kita bekerja menjadi lebih baik karena keberadaan kita. Kalau semua orang berfikir seperti itu, saya yakin, selalu ada perubahan atau perbaikan pada perusahaan, terutama perusahaan atau badan pemerintah. Bukannya itu yang sama-sama kita harapkan di Indonesia?

Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat untuk semesta kita…

Comments (2)

ANAK KECIL JAMAN SEKARANG

Kemarin baru saja koneksi internet si rumah saya selesai. Sekarang penggunannya bisa unlimited, soalnya kami jadi punya 4 router dan sebuah akses point. Jadi tak terbatas untuk yang menggunakan akses pioint ini. Uniknya, setelah dipasang, setiap orang di rumah saya bisa mengaksesnya. KArena ternyata ada beberapa device yang kami punya, bisa koneksi dengan wireless. Bahkan adik saya yang kelas 2 SD pun bisa menggunakannya bersama-sama.

Website yang pasti dibuka bersama adalah facebook. Dengan cepat, adik saya belajar menggunakan fitur-fitur yang ada di dalamnya. Bahkan dia tampak lebih aktif mencoba ini itu. Di waktu lain, adik kecil saya menemukan sebuah buku diary milik kakak saya saat SD. Kira-kira isi bukunya seperti berikut: Data pribadi yang lengkap milik kakak saya, peraturan pengisian buku diary, dan diikuti data-data lengkap teman-teman yang mengisinya, termasuk saya. TEman-temannya tersebut memberikan data pribadi, testimoni, tebak-tebakan dan atau pantun di akhirnya. Oia, tak lupa tanda tangan.

Saya hanya tersenyum-senyum melihatnya. Lalu kakak saya bilang, “Nda, kalau zaman kita dulu, buku diary kayak gitu tuh kayak Facebook nya zaman sekarang”.
Saya langsung mikir. Iya juga yah. Habitnya masih sama, tapi FAcebook emang memfasilitasi gaya hidup yang sama dengan teknologi berbeda. TEntunya lebih memudahkan. Wah, wah, zaman memang sudah berbeda.

Nanti zaman saya punya anak kayak gimana ya gaya hidupnya? :-? g

Comments (1)

KETIKA BERMIMPI ITU MENJADI SULIT

jovian_dreamsSaat memasuki penghujung tahun 2005, saya sedang on fire memperbaiki perkuliahan. On fire memperbaiki banyak hal sih sebenernya. Tetapi pemicu utamanya adalah perkuliahan. Ketika itu saya merumuskan mimpi-mimpi yang kemudian saya visualisasikan dalam sebuah dokumen berbentuk power point. Lengkap dengan lagu dan gambar. Hum, ditambah transisi-transisi yang keren. Pokoknya dah kayak liat film masa depan Adinda deh.

Membuatnya terasa begitu mudah. Ada semangat yang menggebu-gebu hadir saat itu. Membuat saya bangkit dan merasa jelas kenapa hari ini harus selalu saya perjuangkan. Now is the future…

Dan sekarang, di penghujung 2008, saya merasa terlalu banyak hal yang harus diperbaiki dalam hidup saya. Karena saya takut salah menginvestasikan masa depan. Dan akhirnya, saya mulai berfikir keras, tentang hidup saya sekarang dan mendepan. Mencoba untuk bermimpi, tetapi sulit. Membayangkan setelah lulus mau ngapain aja juga sulit. Pikiran ini tidak melayang begitu bebas layaknya di penghujung 2005. Otak ini sungguh berbeda.

Mudah sekali bagi saya dulu menentukan, ingin ini ingin itu. Ingin menjadi ini, ingin menjadi itu. Awalnya saya merasa sangat frustasi dengan keadaan ini. Merasa diri seperti zombie yang tidak tahu mau dikemanakan hidup ini. Membiarkan air mengalir dan membiarkan diri hanyut bersamanya.

Namun setelah merenung, dan berbicara dengan beberapa teman, saya mendapatkan jawabannya. Ini merupakan hal yang wajar. Semakin hari semakin kita banyak tahu. Semakin banyak rasa sakit yang kita dapatkan dari kegagalan-kegagalan kita. Semakin banyak juga bekas rasa bahagia akibat kemenangan-kemenangan kita. Dan itu membuat kita berubah, baik hati dan pikiran. Semakin banyak pertimbangan.

Namun sayangnya, kita sering mengalah dengan rasa sakit dan lupa dengan keberhasilan-keberhasilan kita. Sehingga rasa sakit lebih memenangkan diri kita untuk takut berbuat sesuatu. Lebih parahnya takut bermimpi. Padahal rasa sakit itu seringkali membuat kita bertambah kuat dan bertambah ilmunya. Mungkin ada benarnya juga, dalam beberapa hal kita akan takut mengulangnya. Walaupun itu juga tidak sepenuhnya benar. Tetapi, membuat kita takut untuk berbuat sesuatu yang bahkan belum pernah kita coba, itu yang bermasalah.

Kobarkan lagi semangat… Lemparkan lagi mimpi-mimpi kita ke angkasa. Ciptakan imajinasi yang kelak akan sangat layak untuk diperjuangkan. Karena hidup terlalu sayang untuk dilalui begitu saja. Bangun, tertidur, bangun, tertidur, bangun, tertidur… lalu mati.

Mimpi yang sebenarnya bukanah sesuatu yang membuat kita tertidur, melainkan bergerak.

*yang mencoba menyemangati diri*

Comments (1)

Older Posts »