Archive for Kuliah

MEMBACA PAPER (2)

Tadi sore iseng-iseng buka milis PADRG, dan ternyata banyak postingan yang sudah saya lewatkan. Salah satunya membahas tentang cara membaca paper yang efektif. Menurut dosen saya yang lain ini, ada cara yang paling efektif, yaitu dengan menerjemahkan paper. Penasaran, saya langsung coba menerjemahkan sebuah paper. Sampai tulisan ini dibuat, saya baru saja selesai menerjemahkan sebuah paper dengan 6 halaman. Dan saya merasa jauh lebih mengerti isi paper tersebut daripada sebelumnya. Saya sudah baca paper tersebut dua kali sebelumnya. Benar-benar efektif. TEtapi memang membutuhkan momen yang santai banget. Kalau nggak, pusing.

Tapi inti dari semua cara sih menurut saya adalah niat. Seberapa bener dan kukuh niat kita untuk mencoba memahami sesuatu yang sebelumnya kita tidak mempunyai gambaran. hoho. Teuteup niat mah nomor satu yah dimana-mana.

So? Try it! I bet you will! :P

Selamat memahami paper-paper anda…. :)

Comments (1)

MEMBACA PAPER

Sekarang musimnya saya harus membaca banyak paper. Demi, guna, untuk…hehe. Mengerti topik Tugas Akhir yang diberikan oleh dosen pembimbing. Saya amat bingung membacanya. Rasanya sulit sekali memahami maksudnya, intinya. Apa sih yang pengen penulis sampaiin ke mahasiswa macem saya ini. Apa yang perlu saya ketahui. Sempat hampir putus asa karena tidak bisa memahami betul isi paper. Sedikit sekali dari tulisan tersebut yang bisa saya pahami.
Akhirnya saya bertanya kepada kakak kelas saya, gimana caranya. Beliau mengatakan kalau paper itu ditujukan untuk eksperties di bidang itu. Levelnya bisa dikatakan di atas basic. Jadi agak wajar kalau kita tidak langsung memahami isi paper tersebut. Terlebih di paper sering sekali penulis menulis angka di dalam kurung menunjuk sebuah referensi. Sehingga kalau ada yang kurang jelas dari penjelasannya, dapat kita refer to paper lain yang bisa menjelaskannya secara detail. Wah, jadi sebagai pemula, emang gede banget effort nya supaya bisa mengerti paper.
IDe lain, dari dosen saya. Ini lebih simple dan menyenangkan. Bacalah paper dengan seksama dan sabar. Ulangi sampai tiga atau empat kali. Kalau setelah empat kali belum dapat dipahami, maka tinggalkan saja paper itu. Berarti penulisnya yang kurang bagus menyampaiaknnya. CAri paper lain yang lebih baik untuk kita. Haha. Ini yang paling saya suka. :P
Selamat memahami paper-paper anda!

Comments (1)

TERUS BELAJAR…

Ada hal yang membuat saya seringkali sulit untuk memahami suatu hal dengan baik. Pikiran saya kadang mengintimidasi hati saya, kalau sayalah yang paling benar. Seringkali kebenaran menjadi jauh dari diri saya, hanya karena mindset yang saya miliki tadi. Apakah saya menyesal?

Sebenarnya tidak. Karena setelah dipikir-pikir, keyakinan akan diri itu benar, tidak ada salahnya. Saya meyakini bahwa manusia dikaruniai hati dan akal untuk melahirkan sikap maupun perkataan. Itu modal dari Tuhan. Dan yang saya sadari merupakan kesalahan adalah, ketika suatu kali ternyata saya benar. Kemudian kedua kali nya pun saya benar. Ketiga kali saya benar lagi. Maka akan ada perasaan dalam benak saya bahwa saya selalu benar (dalam hal tersebut). Ini yang sering menjebak. Manusia pusat khilaf. Itu yang saya lupa. Manusia tidak sempurna itu yang sering saya abaikan.

Sepertinya itu manusiawi terjadi. Bermain probabilitas dalam kehidupan, untuk mengklaim sesuatu. Bukan hal yang benar, melainkan wajar adanya.

Tuntutlah ilmu dari dalam kandungan sampai ke liang lahat.

Mungkin itu satu-satunya kunci atas permasalahan di atas. Belajar apa pun. Dari manapun. Kapan pun… Gak boleh berhenti belajar…

Leave a Comment

MENGHITUNG HARI

Menghitung hari.. Detik demi detik… Masa kunanti apa kan ada…

hiks2.

Tiga puluh empat jam lagi… Daku meninggalkan pulau ini. Berpetualang di Batam. Semua sudah siap. Tinggal mengumpulkan mental dan nyali untuk terus belajar dan berfikir positif selama disana. Ternyata it’s not easy to be alone. haha. Sotoy banget ya. Baru juga dibayangin, belum dijalanin.

Mau tidur dan berharap terlelap, eh malah mata ini pengen terus merekam setiap detil kamar. Gak mau kehilangan auranya mungkin mata ini. Akhirnya memilih connect dan bersosialisasi dengan kawan-kawan maya.

Ketakutan terbesar sebenarnya  adalah menjadi sangat tidak produktif disana. Bahas kampus saya sih nyampah. So, I need a plan to spend 2 months productively by my way. Butuh ide. Ada ide?

Leave a Comment

JAUH, GIMANA YA RASANYA

Aduh aduh. Nasib jadi orang Bandung. Dimana kota ini begitu indah, nyaman dan nyaris lengkap. Hehe. Narsis. Tapi emang bener kok. Sejauh ini, kota yang bikin hidup lebih nyantei dan nyaman yang pernah saya kunjungi masih Bandung. Dari penghujung 1999 sampai sekarang saya masih tinggal di Bandung. Dan lebih nyamannya lagi, saya tinggal selalu dengan orang tua.

Namun, sebentar lagi saya akan KP. Tampaknya akan jadi anak kos selama dua bulan disana. Gimana ya rasanya jauh dari keluarga.

Mungkin bagi sebagian pembaca yang sudah bertahun-tahun merantau, ini lucu. Tapi sungguh, saya masih cupu urusan rantau-merantau. Kalau ada acara PII saja, saya butuh tiga hari lamanya untuk mengatasi homesick. Padahal acara PII yang jauh tidak pernah lebih dari sepuluh hari. Ini enam puluh hari. wah wah wah.

Beberapa waktu yang lalu saya bilang ke Ummi. “Mi, temenin Nda seminggu dulu ya disana.” Ummi sempat mengiyakan. Tapi saya malah jadi takut. Takut saya gak belajar jauh dari keluarga. Dan untungnya, Ummi akan sibuk pada waktu-waktu itu. Jadi tidak jadi menemani.
Pikiran-pikiran aneh saya:

Tar makanannya disana kek mana ya?

Trus temen kosannya kek mana ya?

Kamar mandinya di dalem atau di luar?

Tar kalau gak bisa tidur, ngapain ya?

dan lama-lama, saya menyadari. Kalau saya masih kekanak-kanakan. Bergantung pada orang-orang di sekitar saya. Hum… So?

DARR!! Jadi kesamber sama semangat baru saat menulis ini. Ya, ini momen berharga sebenarnya buat saya. Buat belajar hidup dan berdiri di atas kaki sendiri. Jadi deh sekarang harus membekali diri dengan keberanian dan optimisme. Kalau semua pertanyaan dan keresahan itu jawabannya ada di dalam diri saya sendiri.

Semoga dengan KP ini memberikan banyak pembelajaran untuk diri saya. Amiin. Buat teman-teman EL ITB 2005 yang lain. Selamat KP dan manfaatkan setiap detikmu nanti untuk belajar. dan jangan lupa oleh-olehnya. Oleh-oleh ilmu yang didapat dari KP, cerita-cerita lucu, haru apapun pokoknya inspiring dan tentunya makanan khas daerah tempat kalian KP. Hehe.

Comments (2)

KESALAHAN TETAP KESALAHAN, TETAP BELAJAR ITU KEWAJIBAN DAN BERUBAH ITU SUATU KEBAIKAN

Wah, ternyata ya. Kita harus lebih mengenal diri kita daripada orang lain. Supaya kita dapat menyiasati harus seperti apa kita mengatur diri kita. Saya punya pengalaman pagi ini. Pagi ini, seperti postingan sebelumnya, saya hadapi dengan penuh semangat.

Sesemangat apapun, ternyata tetap ada yang salah dalam diri saya. Saya semangat mengerjakan pekerjaan yang saya tunda tadi malam. Alhasil, saya kelupaan hal lainnya, kecil, namun sangat menentukan. Apa coba? Hehe. Kartu dan Name Tag Praktikum. Begini ceritanya…

Printer rumah habis tinta ketika saya ingin menge-print kerjaan saya tadi subuh. Sudah menjadi pasti, saya harus mencari tempat nge-print di luar. Pukul 06.30 berangkat dari rumah ke kantor Umi saya. Tiga kali mencoba printer, gagal. Ada yang selalu paper jam lah, ada yang komputer nya kena virus jadi padam-nyala-padam-nyala, sampai terakhir gagal karena kertas habis.

Terakhir, mendapat tempat nge-print yang bagus di rumah sepupu. Tapi setelah semua selesai dan siap… Wow! Jam menunjukkan pukul 07.50. Mungkin jarak kampus dan rumah sepupu tidak bisa dibilang jauh, namun saya terjebak macet di sebuah perempatan. Alhasil, datang ke tempat praktikum telat, 5-10 menitan.

Otomatis nilai dikurangi. Saya tergesa-gesa menaruh tas dan jaket di loker… Dan… Oops! Kartu praktikum! Hah? Name tag juga. Ya, keduanya tertinggal di rumah. Saya lalu menanyakan ke asisten harus bagaimana. Dia hanya menjawab, “Silahkan anda baca lagi peraturannya…”.

Langsung mencari modul 1, karena saya ingat ada peraturan disana. Tertulis pelanggaran terhadap prosedur dan kelengkapan akan menggugurkan nilai praktikum. Tubuh ini terasa lemas… Seolah sirna usaha pagi-pagi tadi. Pengen nangis… Tapi… Apa boleh buat. It doesn’t change anything except destructing my great day today. Jadi, saya hanya mencoba menyesali dan berfikir. Kemudian tersenyum agar jam-jam berikutnya bisa dihadapi dengan lebih baik.

Hasil perenungan saya adalah bahwa saya menyadari saya seorang yang melankolis dan moody. Sehingga apa yang akan dilakukan harus terencana, memiliki jadwal khusus dan harus diingatkan. Kadang mengerjakan sesuatu dengan mepet dan dalam kondisi tidak mengerti apa-apa membuat mood saya rusak.

Kalau dalam kasus ini, saya berfikir sebenarnya ada alternatif lain selain di-ground-kan nilainya. Yaitu kembali ke rumah, ambil keduanya dan datang telat. Resikonya hanya pengurangan nilai berdasarkan keterlambatan. Tapi, mood nya tadi langsung rusak karena merasa diri tidak dihargai usaha sejak pagi. Padahal kalau dipikir-pikir, asisten itu mana tau saya usaha begitu. Dan peduli apa? (iya mas… Ampuuun…)

Ya… Sekarang saya mencoba untuk lebih produktif mengurus dan menyelesaikan pekerjaan lain. Lebih beruntung, dua orang teman hari ini memberi semangat kepada saya. Padahal keduanya belum tahu apa yang sedang terjadi pada saya.

“Nda, confusius pernah bilang ‘our greatness isn’t in never falling. But, raising everytime we fall’. Bravo!!”

-AAR-

“Senyum bagi mahluk Tuhan yang lain seperti sinar matahari bagi dunia. Met pagi! Have a nice day!”

-FSVF-

Well, I’ve got my note for today. Haven’t you?

Comments (4)

A-I-U-E-O

Waktu di kelas terakhir Pak Armein (PSD) tadi, saya datang terlambat karena hujan yang turun amat deras. Kemudian saya mendapat posisi tempat duduk yang kirang pewe untuk mencatat. Sehingga saya memilih untukmendengarkan saja. Toh beliau mengajar cukup seru dan mudah dimengerti, jadi nanti minjam catatan yang lain saja.

Sedang khusyuk mendengarkan, datang seorang teman saya AA, dia duduk di sebelah saya. Tidak mungkin melepaskan diri dari ngobrol asyik kalau duduk bersama dia. Dia kemudian bertanya sesuatu kepada saya, “Nda, kalau suara kita itu terdiri dari frekuensi dan amplitudo. Berarti yang membedakan A, I, U, E , O apa?”

Wah, saya sempat menjawab dengan beberapa candaan yang isinya mengarang bebas. Tapi ternyata di tengah candaan itu, membuat saya penasaran. Bener juga ya. Kalau saya bernyanyi Bintang Kecil dengan teks aslinya “Bintang kecil… Di langit yang biru…” dibandingkan dengan menyanyikannya tanpa teks (Hanya na na na na…na na na na na na…) tapi benar nadanya… Terdengar di telinga kan berbeda… Jadi kenapa kita bisa denger itu A, B, C,D… Apa nya yang berbeda? Adakah yang bisa menjelaskan kepada saya? Saya tidak mengerti…

Kenapa juga mengatakan A sambil mingkem sulit dan malah terdengar seperti I? Buka mulut untuk bilang O sedang mengatur ’sesuatu itu’… Apa itu?

Leave a Comment

CANDU BOLOS

Mungkin mahluk bernama Adinda ini masih belum dapat dikatakan sepenuhnya mantep sebagai manusia dewasa. Masih ada saja ‘kenakalan-kenakalan’ ala remaja SMA yang masih melekat di diri. Salah satunya membolos. Kalau dianalisa, membolos bukan hal yang memberikan untung. Kecuali, kalau emang badan lagi bener-bener gak fit.

Tapi yang namanya bolos selalu diakhiri dengan penyesalan. Karena selalu merusak ritme kuliah yang dibangun sebelumnya. Lebih jauh, bolos kadang membuat candu. Jika sudah bolos sekali, perasaan masih bisa mengakali alasan kenapa harus bolos. Supaya tidak terlalu dihinggapi rasa bersalah. Namun kedua, ketiga, bisa membuat putus asa kalau masuk ke kelas lagi. Tidak nyambung dengan pokok bahasan, sehingga susah sekali untuk fokus.

Bolos tidak pernah direncanakan di awal semester. Mungkin ini urusan iman. Katanya berencana saja memang tidak cukup. Jadi selain berencana, memang harus menjaga iman untuk tetap konsisten. Itu mungkin yang mahal.

Leave a Comment