Archive for Keluarga

CATATAN HATI BUNDA

Kondisi badan yang kurang sehat beberapa hari terakhir ini ternyata memberikan banyak kenikmatan untuk saya. Hari-hari dijalani dengan lebih santai. Jauh dari hal-hal berbau elektro dan sejenisnya. Hingga pada akhirnya saya berkesempatan melahap sebuah buku karya Asma Nadia yang menarik dijadikan bahan berbagi dengan anda semua. Berikut resensinya:

Judul Buku : Catatan Hati Bunda

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: Lingkar Pena

Tahun Terbit: 2008

Dimensi: 20.5cm

Jumlah Halaman: 350 Halaman

Bagi Asma, menjadi Ibu bukan sekadar tugas, tapi sumber inspirasi dan kebahagiaan yang tiada taranya. Selamat untuk Asma Nadia, penulis terbaik, ibu terbaik bagi anak-anak kami.” (Isa Alamsyah)

Buku ini berisi tentang cerita-cerita pendek pengalaman Asma Nadia dan Isa Alamsyah sebagai orang tua mendidik kedua anaknya, Chacha dan Adam. Seperti biasa, kalimat-kalimat Asma begitu sederhana, menarik dan menyentuh para pembacanya.

Anak-anak adalah titipan Tuhan. Orang tuanyalah yang kelak menjadikannya muslim, nasrani atau majusi. Membaca buku ini, membuat saya berfikir bahwa, penting setiap orang tua atau calon orang tua belajar memahami pendidikan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menghantarkan anak-anaknya siap menjadi manusia yang baligh, siap mempertanggung jawabkan hidupnya sendiri.

Dalam buku ini, Asma secara tidak langsung memberikan tips-tips berharga bagaimana mendidik anak. Mungkin tidak semua kasus pendidikan anak terwakili disini. Tapi setidaknya, buku ini memberikan kita semua inspirasi untuk mencari cara kreatif untuk menumbuh kembangkan buah hati dengan cara yang tepat.

Membaca buku ini juga membuat saya berfikir, tidak mudah ya sepertinya menjadi orang tua. Soalnya kita harus sudah sangat matang. Gak asal-asalan, gak egois, gak gak jelas…. Hehe. Mungkin ini pikiran gadis ingusan yang belum mengerti seluk beluk dunia ya. Tapi artinya, mendidik anak nantinya akan menjadi tugas yang besar dan bahkan kalau berhasil, dapat dijadikan karya terbesar dalam hidup kita.

Mengingat buku ini merupakan tulisan bersama Asma dan Isa, mendidik anak rupanya bukan melulu tugas seorang Bunda. Kontribusi Ayah pun memiliki pengaruh yang tidak kalah besar. Kerjasama yang baik antara Ayah dan Bunda dalam pendidikan anak sepertinya sangat penting. Ayah yang secara fisik lebih kuat, berani, *terkadang* galak… Bunda yang penuh kekhawatiran, protektif, dll… Kesemuanya dibutuhkan oleh anak-anak.

Kisah ini bukan yang terbaik. Tetapi menjadi yang terbaik karena terdokumentasikan dengan baik dan indah. Sehingga dapat menginspirasi kita. Saya yakin banyak kisah mendidik anak yang jauh lebih menyentuh, menginspirasi… Makanyya, bapak-ibu, Mama-Papa, Mami-Papi, Abi-Umi… ayo menulis dan berbagi kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi kami-kami yang masih muda ini untuk belajar menjadi orang tua yang lebih baik suatu saat nanti. :)

Terakhir, buku ini, lagi-lagi, sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Oleh perempuan ataupun laki-laki. BIsa jadi kado yang sangat berharga untuk kehidupan kelak.

Terakhir… lagi… hehe… maaf ya ibu-ibu… bunda-bunda… ummi-ummi… kalau pendapat saya ini sotoy… :P

Comments (2)

PASTI GARA-GARA…

Saya baru saja ditampar oleh celotehan lucu adik saya, Ila. Usianya tahun ini adalah 8 tahun. Cerita bermula saat saya pulang ke rumah. Saya entah kenapa merasa sangat bahagia hari itu. Padahal tidak ada hal spesial yang terjadi paginya. Hari itu siang.

Bahkan saya datang ke rumah dengan badan yang lemas dan tidak bersemangat. Tetapi anehnya, begitu melihat Ila, adik kecil saya. Saya pengen tersenyum. Kemudian saya menyalakan laptop. Dan di tempat yang berdekatan, Ila menyalakan komputer. Kami sama-sama membuka Facebook. Dan tiba-tiba, Ila menyapa lewat fitur chat.

“Halo teteh…”

“Hai cantik… Aku sayaaaang banget sama De’ Ila…”

“Teteh kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Teteh lagi seneng ya?”

“Kenapa gitu?”

“Teteh lagi seneng ya?”

“Kenapa emang?”

“Gapapa. Pasti teteh seneng gara-gara M** A*** da…”

Kemudian chat itu terputus untuk beberapa saat. Ila menghampiri saya di meja belajar saya. Memeluk dan berusaha mencium saya. Haha. Seperti biasa, saya suka merasa ‘geuleuh’, karena kalau dia mencium suka basah. hihi. Tapi akhirnya kena juga ciuman Ila itu.

“Iya… Teh Nda kan kalau seneng pasti gara-gara M** A***… Kan Teh Nda sayangnya ma M** A***…”

Busyeeeeet…  Separah itukah dia menilai kalau saya cuma sayang sama manusia berhuruf bintang-bintang di atas? Sampai-sampai dia gak percaya kalau saya benar-benar mengungkapkan itu dari hati yang paling dalam. Dan bener-bener pengen bilang, “De Ila, Teh Nda sayang banget sama De Ila…”.

Oh, c’mon… I wish this is true… I LOve You, Ila…

Leave a Comment

Gaya Ummi dan Abi: ‘make it up!’

Berkumpul bersama keluarga merupakan hal yang amat menyenangkan. Keluarga akan selalu menerima keadaan kita, tentu saja, buktinya sampai saat ini kita bisa bertumbuh dan berkembang. Tanaman tidak mungkin dapat melakukannya, jika tanahnya tidak mau menerimanya. Bisa jadi terlalu banyak kandungan air, terlalu kering, pokoknya tidak pas. Bagi saya, keluarga seperti lahan yang akan menerima saya apa adanya. Tetapi tidak hanya menerima, seperti yang saya jelaskan di atas, keluarga membiarkan saya bertumbuh dan berkembang.

at mentengBEtapa besar arti keluarga bagi kehidupan saya hingga saat ini. Dan rupanya, saya tidak salah merasa sangat beruntung. Saya memiliki orang tua yang amat pengertian. Mereka mengenal betul putrinya yang satu ini. Mereka cukup untuk menjadi teladan saya sampai saat ini. Memiliki kakak yang terlihat cuek dan menyebalkan, padahal sebenarnya dia seorang yang paling baik untuk saya. Adik-adik yang lucu, cerdas dan dapat menjadi teman bermain yang paling seru.

Anda mungkin tidak percaya, jelas. Tidak seindah itu juga. Tentu saja ada intrik-intrik yang pernah kami alami dan mengganggu keharmonisan semuanya. Tapi yang saya lihat, selama ini segala hal yang menjadi permasalahan berhasil di ‘make it up’ oleh kedua orang tua saya. Itu yang membuat saya sering merasa lega setiap kali datang sebuah masalah. Ummi dan Abi tidak akan membiarkan kita larut dalam masalah, yang mungkin sangat besar, tetapi mereka tidak akan membiarkannya mejadi sesuatu yang akan menjadi beban kita di kemudian hari.

Pernah suatu ketika, saya memiliki masalah dengan kakak saya. Entah apa sebabnya, saya menjadi marah dengan seisi rumah, Ummi, Abi dan bahkan adik-adik saya. Saya berfikir bahwa ini semua tidak adil. Dan yang saya rasa, kedua orang tua saya, segera, ‘make it up’. Segera. Sehingga saya gak perlu lagi capek-capek menghabiskan waktu banyak di luar untuk pundung. Dan ‘make it up’ itu juga tidak berarti sikap saya dibenarkan, melainkan mereka mencoba mencairkan suasana dan mengajak berdiskusi. Kedua orang tua saya memberikan pengertian kepada saya dan kakak saya. Saya rasa ini adil. Mungkin memang awalnya orang tua saya bisa jadi salah. Tapi yang bikin saya bangga adalah mereka belajar untuk mendengar, mengerti kemudian segera untuk menyelesaikan permasalahan.

Keluarga yang merupakan surga dunia pun tak lama tercipta lagi. Saya yakin, banyak kisah keluarga yang menyenangkan dan bikin bangga lain di atap-atap rumah teman-teman semua. Bangga, karena setiap keluarga pasti memiliki ‘local wisdom’ yang berbeda satu sama lain. MAri kita berbagi kebahagiaan! :)

Leave a Comment

ANAK KECIL JAMAN SEKARANG

Kemarin baru saja koneksi internet si rumah saya selesai. Sekarang penggunannya bisa unlimited, soalnya kami jadi punya 4 router dan sebuah akses point. Jadi tak terbatas untuk yang menggunakan akses pioint ini. Uniknya, setelah dipasang, setiap orang di rumah saya bisa mengaksesnya. KArena ternyata ada beberapa device yang kami punya, bisa koneksi dengan wireless. Bahkan adik saya yang kelas 2 SD pun bisa menggunakannya bersama-sama.

Website yang pasti dibuka bersama adalah facebook. Dengan cepat, adik saya belajar menggunakan fitur-fitur yang ada di dalamnya. Bahkan dia tampak lebih aktif mencoba ini itu. Di waktu lain, adik kecil saya menemukan sebuah buku diary milik kakak saya saat SD. Kira-kira isi bukunya seperti berikut: Data pribadi yang lengkap milik kakak saya, peraturan pengisian buku diary, dan diikuti data-data lengkap teman-teman yang mengisinya, termasuk saya. TEman-temannya tersebut memberikan data pribadi, testimoni, tebak-tebakan dan atau pantun di akhirnya. Oia, tak lupa tanda tangan.

Saya hanya tersenyum-senyum melihatnya. Lalu kakak saya bilang, “Nda, kalau zaman kita dulu, buku diary kayak gitu tuh kayak Facebook nya zaman sekarang”.
Saya langsung mikir. Iya juga yah. Habitnya masih sama, tapi FAcebook emang memfasilitasi gaya hidup yang sama dengan teknologi berbeda. TEntunya lebih memudahkan. Wah, wah, zaman memang sudah berbeda.

Nanti zaman saya punya anak kayak gimana ya gaya hidupnya? :-? g

Comments (1)

KEHILANGAN

familystudies

Mimpi-mimpi itu digantung tinggi sekali

Semakin tinggi membuatnya semakin terasa berharga

Atas hati dan pikiran

Bilakah esok berubah

Kemudian ia hilang

Hanya karena kerikil-kerikil kecl itu

Satu hal yang menggugat

Kemana ia pergi?

Adakah khilaf telah kutoreh?

Kasih yang hilang…

Cinta yang perlahan menjadi benci…

Tak sedikitpun mata mencuri untuk melihat

Hanya sinisme belaka…Apalah itu…

Leave a Comment

ILAKYU… ILAKYU…

cimg1823rSaya ingin menceritakan adik saya yang paling kecil dan paling lucu. Namanya Fathfarhani Atiyla Fithrie. Kekocakan dia seringkali mencairkan suasana rumah. Biasanya sih partner kocaknya sama adik saya satu lagi, Abil. Tetapi kali ini saya ingin fokus menceritakan tentang De Ila, nama sapaannya.

Pagi ini tiba-tiba ia masuk ke kamar saya. Dan menjabat erat tangan saya, “Teh Dinda, selamat ulang tahun yah… Tunggu yah aku mau kasih kado tulisan…” Seperti biasa. Hobinya menulis dan tulisannya sedikit romantis.

Teringat seminggu yang lalu ia memberikan surat ke Ummi dan Abi perihal kepergiannya ke Jakarta untuk mengikuti festival Tari Anak Nasional. Isi suratnya sedih banget. Menjelaskan bahwa dirinya nanti di Jakarta bakalan kangen banget sama Ummi dan Abi. Terus dia berjanji di Jakarta bakalan menjadi anak yang baik dan shalat tepat waktu. Tulisannya cukup bagus untuk anak seusianya. Koleksi kertasnya pun macam-macam. Dari yang polos sampai yang bergambar-gambar.

Selang beberapa saat setelah ia masuk ke kamar, ia kemudian memberikan secarik kertas yang dilipat-lipat. Lipatannya aneh, tetapi namanya anak kecil. Pasti maksudnya gak begitu lipatannnya. Kemudian ia memberikan kertas itu ke saya.

Isi tulisannya lucu banget. Curahan hati seorang adik yang memiliki empat kakak yang hobinya nyuruh,

Selamat ulang tahun Teh Dinda semoga jadi kakak Tercantik (secara satu2nya kakak perempuan dia cuma saya. haha. nice try) he he he…. atau jadi kakak Terbaik dan Terpintar (Dah kayak punya award sendiri gitu tentang kakak-kakanya. Lucu bet!),  kalau baik jangan nyuruh aku terus ya! kalau pintar tolong ajarin B. Inggris ya! Udahlah capek nulis!

Haduh…. Haduh… Adikku ini memang unik. Makasih Tuhan dah menghadirkannya di tengah-tengah keluargaku… =)


Comments (3)

LHOKSEUMAWE 06:55

Tengah malam, Ummi merasakan perutnya mulas. Awalnya beliau berfikir hal tersebut hanya mulas biasa. Teringat siangnya baru saja menikmati misop (kalau di Jawa sejenis Baso lah) dan asinan Bandung. Namun rupanya rasa mulasnya kerep. Dan mulai mencurigai bayi yang ada di dalam rahimnya (hehe). Kebetulan bulan itu adalah bulan kesembilan kehamilannya. Segeralah bersiap Ummi dan Abi. Ummi sempat menggendong Uki (anak pertama, berusia 1 th 10 hari) untuk ikut ke Rumah Bersalin Materna. Abi pun bergegas menyalakan motornya.

Rupanya suara motor Abi membangunkan tetangga. Segera Mama Levi keluar, dan merebut Uki dari pangkuan Ummi. Rupanya beliau tidak tega melihat Uki yang sedang tertidur pulas dibawa pagi-pagi buta naik motor sejauh 2-3 Km menuju Rumah Bersalin Materna. Uki kemudian dititipkan di rumah Mamah Levi.

Ummi dan Abi berangkat. Setelah diperiksa, rupanya sudah pembukaan tujuh. Dimana secara teori hanya membutuhkan waktu beberapa menit lagi untuk keluar. Proses tersebut dibantu oleh seorang Bidan yang masih perawan dan baru lulus sekolah kebidanan, maklum karena di Lhokseumawe saat itu hanya terdapat dua dokter kandungan. Itu pun keduanya sedang ke luar kota. Bismillah, Ummi menggantungkan keselamatan diri dan bayinya pada Bidan tersebut.

Berusaha dan menanti selama dua jam, bayi tersebut hanya keluar dan masuk sedikit-sedikit. Seolah ingin keluar tetapi tidak sanggup. Rupanya bayi tersebut terlilit ari-ari. Sehingga diperlukan keterampilann ekstra sang Bidan untuk menolong kelahiran bayinya. Abi pun ikut membantu proses persalinan. Karena Bidan baru itu sangat gugup. Akhirnya bayi pun berhasil dikeluarkan.

Betapa kagetnya Ummi dan Abi, ketika bayi perempuan itu keluar, ia tak mengeluarkan tangisan layaknya bayi normal. Bidan pun membolak-balikkan posisi bayi dengan berat 3.6 Kg dan tinggi 50 cm itu. Menepuk-nepuk badan dan menyentil telinganya. Namun tetap tak bersuara. Usaha tersebut dilanjutkan dengan menyedot hidung bayi. Akhirnya membuahkan hasil, darah keluar dari hidungnya, dan meledaklah tangisan bayi tersebut.

Perasaan lega diselimuti kebahagiaan tak terhingga dirasakan oleh Ummi dan Abi kala itu. Setelah sehari beristirahat di RUmah Bersalin, saatnya membawa bayi tersebut pulang. Saat kepulangan, pihak Rumah Bersalin menawarkan pembuatan akte kelahiran langsung. Berita gembira untuk kedua pasangan asal pulau Jawa tersebut. Kalau melalui jalur biasa, tentunya akan sangat repot. Karena tidak memiliki kartu identitas resmi di Aceh. Disambutnya tawaran itu.

Segera Abi dan Ummi mengurus administrasi dan akte kelahiran. Ketika berhadapan dengan administrator, keduanya diminta memberikan nama saat itu juga. Dahulu belum ramai adat mempersiapkan nama sebelum melahirkan, Uki kakak bayi itu pun diberikan nama setelah beberapa hari lahir. Ummi dan Abi sempat kebingungan…

Pada saat itu kebetuan sekali di Rumah Bersalin sedang dilantunkan lagu Bimbo;

...Adinda engkaulah embun pagi

Adinda engkaulah matahari

Adinda…

Sesaat itu juga, Adinda dipilih menjadi nama bayi merah itu. Digenapkanlah namanya dengan:

Adinda Ihsani Putri

Dengan penuh harap dan doa dari keduany kelak bayi perempuan itu menjadi kekasih yang baik. Semoga…

Comments (1)

BEST RAYE (LAST)

Akhir cerita lebaran kali ini adalah silaturahmi keluarga besar KH. E. Hasbullah Hafidzi. Bertempat di sebuah villa di Cibodas, Lembang. Yang menjadi penyelenggara acara pada tahun ini adalah Keluarga Wa Nina. Dimulai dari penyambutan di depan rumah villa, setiap tamu yang datang disodorkan sebuah dus berisi kertas dengan tiga pilihan warna untuk ditempel. Jadi setiap tamu memiliki tempelan di baju, dengan pilihan warna: hitam, putih dan merah.

Sambil menunggu acara dibuka, semua keluarga melakukan aktivitas di sekitar villa. Ada yang bermain fuutsal, bermain ayunan dkk, ngopi (dalam Bahasa Sunda berarti ngemil dan minum-minum santai), bersantai di Joglo atau Musholla dan lain-lain.

Semua aktivitas di atas terhenti oleh sebuah suara, suara siapa hayo? Yup! Wa Nina, sang tuan rumah. Dengan pengeras suara, beliau memanggil seluruh keluarga untuk berkumpul di lapangan. Ketika semua sudah berkumpul, beliau memandu sebuah permainan. Kami diminta untuk berkumpul berdasarkan warna pada tempelan yang diambil saat pertama kali datang. Kemudian berbaris rapih. Setelah itu, diadakan lomba siapa kelompoknya duluan memakai baju bertuliskan ‘I Love Eyang’ di gawang futsal. Pemenangnya adalah kelompok Hitam.

Game berikutnya, adalah lomba meniup balon, kemudian lomba mengikatkan balon ke kaki, dan terakhir lomba memecahkan balonnya. Permainan ini kocak banget, saya (kelompok putih) awalnya hanya melihat-lihat kelompok merah dan hitam saling memecahkan balon, sehingga kelompok putih aman balonnya. Dan saya, adalah orang terakhir yang balonnya pecah. Karena di tengah sibuknya orang-orang memecahkan balon, tidak ada yang memperhatikan saya, kemudian saya duduk bersantai di sebuah saung, hingga akhirnya mereka semua tersadar dan mengejar saya. Yea…

Setelah lelah dan matahari mulai terasa menyengat, kami berkumpul di Joglo. Ternyata akan diadakan Hasber’s Idol. Setiap kelompok diminta mengirimkan satu orang komentator dan lima orang kontestan. Kebetulan saya menjadi salah satu yang dikirim menjadi kontestan, tapi gagal total. Orang saya baru nyanyi dikit aja Najwa langsung nangis. Jadi aja saya berhenti nyanyinya dan gugur. Hihi. Sedih banget ya. Acara ini kocak banget. Soalnya peserta yang tampil lucu-lucu. Ada yang gayanya Pasha wannabe, ada yang licik cuma lypsing make suara Rossa dan lain-lain lah pokoknya. Komentatornya juga. Udah kayak komentatornya Akhirnya Datang Juga plus plus, jago ngebojeg semua.

Setelah acara Hasber’s Idol selesai, kami semua melanjutkan dengan Shalat Dhuhur di Musholla belakang. Setelah shalat, sambil melepas lelah, kami duduk-duduk di depan musholla dan berfoto-foto. Anak kecil bermain air. Haduh, kasian ibu-ibunya… Semangat ya yang udah jadi Ibu! =)

Gak ada capeknya, setelah merasa udara di luar mulai bersahabat lagi, kami meluncur kembali ke lapangan futsal. Panitia pun sudah menyiapkan perlombaan untuk cucu dan cicit yang masih kecil. Ada lomba berjalan dengan koran, menyambung sedotan dan… apalagi ya? Hehe. Luppa. Lucu-lucu dan bikin heboh. Adek saya, Ila, jagoan banget, dia juara semuanya. Ya iyalah, secara dia yang paling gede. Hehe.

Dah gak ada kerjaan lagi, tiba-tiba ada yang nyawer, yaitu Bi Ima. Spontan semua berkumpul lagi. Awalnya sih tertib pakai acara baris-barisan. Tapi setelah kaum-kaum jail melakukan kelicikan, akhirnya gak ada deh ceritanya bagi-bagi. Uang semua disawer. Dan liat! Saya kayaknya yang paling beruntung hari itu. Hehe. Harus gesit memang. Alhamdulillah! Lumayan buat nambah-nambah tabungan nikah. Haha.

Setelah sawer, acara kembali bebas. Saya iseng-iseng ngajak perempuan bermain futsal. Dan mereka semua seutuju. Dimulailah pertandingan futsal antara cucu-cucu dan anak-anak eyang. Liciknya naudzubillah. Ada yang bawa lari gawang, ada yang gawangnya dibalik, ada yang masukin bola ke baju trus lari ke gawang, haduh, dah gak jelas pokoknya apa nama olahraga nya. Tapi seru! Dan terakhir, Bi Ima ngasih tantangan, siapa yang ngejebol gawang saya dapet uang. Beberapa orang mencoba, dan ternyata Teh Fia yang berhasil. Tapi ditunggu-tunggu Bi Ima gak nepatin janji. Akhirnya saya dan Teh Fia beraksi. Menggunakan segala cara (tapi halal kok) sampai Bi Ima nepatin janji. Dan yea… yea… yea… dapet juga!

Istirahat panjang, diisi dengan shalat dan mandi. Malam nya ada acara resmi. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tausiyah dari Eyang Ema. Kemudian dilanjutkan dengan sungkem dan makan malam. Setelah acara resmi ditutup, sambil menikmati kambing guling dan sate ayam, diselenggarakanlah final Hasbers Idol. Bagi mereka yang diloloskan komentator di acara siang tadi. Kali ini komentatornya ada tiga: komentator vokal (Wa Nur), pakaian (Wa Aa) dan gaya (Mang Asep). Komentator bikin acara semakin seru. Setiap penampilan, diselingi oleh pembacaan award dan pengujian ke mantu-cucu eyang yang baru.
Kali ini lebih kocak dari yang siang. Komentator emang jagoan di bidangnya, jadi super-super kreatif komentar-komentarnya. Mengundang gelak tawa juga haru. Liat aja pose Umi yang lagi khusyuk mengikuti acara tersebut.

Acara diakhiri dengan aksi panggung Mang A***, gak mau disebutin namanya, takut orang kantornya buka blog ini, kan kasian. Hehe. Kami semakin terhibur dan ujung-ujungnya kecapekan dan membubarkan diri.

Malam, ada shalat tahajud bersama, shalat subuh berjamaah dan kuliah subuh. Kemudian semua bergegas mandi dan bersiap foto keluarga. Tahun ini, temanya adalah Batik. Foto-foto nya blom bisa diupload soalnya saya sendiri tidak membawa kamera pada saat itu. Capek dari kemarin moto-moto mulu. Takut tar gak ada di fotonya. Hehe. Jadi aja mengandalkan minta ke orang. Tar kalo udah dapet, janji deh, bakal diupload. Okok?

Segitu aja cerita acara silaturahmi lebaran yang saya rangkai dengan judul “Best Raye” ini. Semoga bisa melepas kerinduan kalian yang belum sempat bergabung dengan keluarga di Bandung.

Selamat bekerja, belajar dan berkarya di luar sana!

Semoga kita tetap terus dapat mensyukuri nikmat berkumpul bersama keluarga…
Salam hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

Comments (6)

BEST RAYE (3)

Alhamdulillah. Hari ini menjadi hari yang melelahkan buat keluarga kita. Karena dari tadi pagi hingga malam ada aja acaranya. Sebagai gambaran umum:

  1. Pagi-Siang : Semua berkumpul di silaturahmi Abah Ro’i.
  2. Siang-Sore : Yang muda-muda sempat ikut silaturahmi kelilingin rumah anak-anak eyang (yang daerah dago aja. Yang bapak-bapak dan ibu-ibu lanjut sampai antapani), namun motong acara untuk karaokean di PVJ.
  3. Sore-Malam : Silaturahmi di Dago Pakar, ada yang pulang dan ada yang nonton Laskar Pelangi (Tau nih, pada gak bosen-bosen. hihi)

Selamat datang anggota keluarga besar KH Hasan Ro’i

Ok, cerita berawal dari silaturahmi Keluarga Besar Abah Ro’i, mungkin untuk para mantu, Abah Ro’i adalah bapak dari Eyang Apa. Acara diselenggarakan pukul 8.00 pagi (Tapi keluarga Nda baru dateng jam 9. Molor…hihi). Dibuka dengan lantunan ayat suci al-Qur’an oleh A Zein. Sambutan dari tuan rumah. Kemudian ada sedikit cerita dari Nenek Iyay. Beliau menceritakan bagaimana Abah Ro’i dulu hidup dengan masjidnya.

Intinya sih, beliau mengingatkan kita untuk kembali ke mesjid untuk ikut memakmurkannya. Dahulu kala, Abah Ro’i adalah orang yang setia dalam memakmurkan masjid. Dari mulai merawat masjid, sampai membangun kegiatan-kegiatan untuk masyarakat banyak. Beliau agak menyesalkan, mana ini incu-incu nya? Kok jarang ada yang terlihat aktif untuk memakmurkan masjid. Yah gitulah pokoknya… Hehe. Suasana agak mengharukan saat mendengar cerita Ma’ Ijih (Istri Abah Ro’i) yang merupakan sosok perempuan yang tangguh dan dermawan. Bagaimana usaha beliau, dengan keterbatasan ekonomi keluarga itu, tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan dan makan anak-anaknya. Untuk zaman itu, konon menyekolahkan anak ke Yogya (karena pendidikan guru agama yang bagus katanya dulu di Jogja) sungguh sangat berat. Namun Ma’ Ijih menggunakan segala daya upaya untuk tetap memenuhinya. Wah, pokoknya harus denger cerita dari Nenek Iyay langsung kayaknya baru bisa paham. Maafin yah…

Dari tausiyah tersebut juga, Nenek Iyay mengajak kita untuk manjadikan forum silaturahmi ini lebih bermanfaat lagi. Terutama untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, bersyukur juga kalau dapat membantu masyarakat. Kita harus peka dengan keluarga kita, mungkin ada yang tidak seberuntung kita bisa hadir disini dengan kendaraan, baju baru dan lain-lain. Mungkin ada saudara yang sudah beberapa tahun tidak bisa hadir, pedulikah kita, ada apa gerangan? Atau mungkin ada yang butuh dibantu secara pendidikan dan lain-lain. Lebih lanjut, dibuatlah panitia dari setiap keluarga, untuk mengelola hal tersebut.

Berkumpul bersama agar dapat tolong-menolong

Merekatkan tali persaudaraan semoga dapat memakmurkan

Tausiyah nenek iyay dilanjutkan dengan Wa Teddy. Kemudian ditutup doa oleh Wa Aa. Acara dilanjutkan dengan sungkeman. Urutannya dari generasi pertama, kedua, ketiga hingga keempat. Lalu makan-makan dan bubar.

Doa Penutup dari Wa AA

Pembentukan panitia

Para sepuh mengikuti rangkaian acara pembukaan

Sungkeman

Ngantri sungkeman dengan poto-poto.

Yang gak betah, kabur dan membeli susu bareng-bareng.


Nah, setelah bubar ini, keluarga Apa langsung berkumpul ke rumah Wa Nina di Dago Pojok. Sebentar saja, langsung ke Rumah Nda. KArena mengejar shalat Jum’at di Masjid Al-Jihad. Di rumah Nda ini yang agak lama, karena banyak makanan enak. Hehe (iya gt?). Tapi serius, kayaknya setelah keluar dari rumah Nda, pada penuh langsung perut. Dari makanan ringan, berat mpe penutup yang seru-seru dikeluarin soalnya.

Abis makan di rumah Nda… Hana berpose…

Dari sini, barulah berpencar. Dimana kaum muda mulai bikin acara sendiri. Yaitu ke PVJ untuk karaoekan. Emang sepertinya kurang diberkahin ma para orang tua, sesampainya disana karaokean tutup dan baru buka jam 3. Krik… Krik… Tapi apa boleh buat, jadi kita menunggu dengan berfoto-foto ria. Sayang, saya hanya mengambil sedikit gambar. Soalnya banyak banget yang bawa kamera.

Sebenarnya yang ikut rombongan ada 12 Orang (Nda, Uki, Faqih, Uji, Diar, Miski, Ais, Fia, Asri, Sarah, Ucan, Hanif). Tapi yang kepoto cuma inih.

Setelah berkaraoke selama dua jam, kami pulang ke rumah masing-masing. Namun ketika keluar PVJ, bapak-bapak dan ibu-ibu datang untuk menonton Laskar Pelangi. De diar dan Miski ikut ibu-ibu dan bapak-bapak. Cucu perempuan lain pulang dan cucu-cucu laki-laki sudah siap langsung melaju ke Buah Batu untuk bermain futsal.

Katanya sih setelah dari itu semua, malamnya pada mau berkunjung ke rumah Wa Aa di Dago Pakar. Tapi entah akan kuat atau tidak badannya. Secara besok kami harus lanjut acara silaturahmi keluarga Eyang Ema dan Eyang Apa itu sendiri di Cibodas Lembang. Semoga besok bisa dapat foto-foto yang lebih masif lagi.

Selamat bekerja dan belajar di luar sana! Semoga sukses!

Salam Hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

Leave a Comment

BEST RAYE (2)

Tulisan ini dibuat untuk keluarga besar Eyang Hasbullah Hafidzi yang berada jauh di luar sana (Anti-Yang lagi di Cibubur untuk karantina ke Jepang, K Irham-yang masih bekerja keras di Oman, A Ijal n Keluarga-di Cannes, A Ipan dan Keluarga di Batam. ada lagi yang belum kesebut?). Mungkin merindukan detik-detik berkumpul dengan keluarga. Maaf kalau foto-fotonya belum bisa mengobati kerinduan kalian. =) Selamat Hari raya semua! Mohon maaf lahir batin ya.

Hari ini, 2 Oktober 2008, ada acara silaturahmi keluarga besar Aki Nonoh (Ayah Eyang Putri) di daerah pasir Jati. Tepatnya di rumah Wa Ndut, Anak dari Nenek Aah. Acara dibuka oleh tuan rumah. Pak Tris berlaku sebagai MC saat itu.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an kemudian dibacakan begitu syahdu berikut terjemahannya. Ayat-ayat yang mengingatkan kita untuk selelu menjalin dan menjaga siaturahmi. Anjuran menjauhi diri dari sikap memperolok-olok saudara seiman. Melerai kedua saudara yang sedang bermusuhan. Banyak, saya kurang hafal. Yang jelas cukup manjadi bahan introspeksi saya selama ini dalam menjalin silaturahmi dengan keluarga.

Dari keluarga besar eyang putri hadir keluarga Wa Entat, Wa Eni (spesial kang Rino dan Teh kiki yang sedang menunggu hari kelahiran anak pertama. Ce atau Co ya?), Wa Nina (yang baru saja nambah cucu perempuan di akhir Ramadhan), Wa Aa (sendiri ajah), Wa Neni, Keluarga Nda, dan Bi Ima.

Eyang Putri sebagai yang dituakan, kemudian memberikan wejangan singkat tentang silaturahmi. Keluarga kita semakin banyak dan tumbuh. Sampai-sampai kalau bertemu sudah seperti tidak saling kenal. Atau kagok menyapa duluan. Jadi beliau meminta maaf. kalau bisa, gak usah ragu untuk menyapa dan jangan sombong kalau disapa. Generasi kedua mungkin masih silih kenal. Tapi generasi ketiga? Eyang kemudian memberikan ide untuk membuat acara camping bareng generasi ketiga Aki Nonoh untuk saling menguatkan silaturahmi di antaranya. Ide itu disambut oleh semua hadirin. Setiap keluarga kemudian mengirimkan satu utusan untuk mengelola acaranya.

Acara resmi kemudian ditutup dengan doa oleh Bapak Wildan Hizbullah. Sungkeman sambil berkenalan kemudian menjadi acara selanjutnya. Setiap keluarga kecil (generasi kedua) kemudian dipanggil satu-satu untuk sungkem ma generasi pertama sambil dikenalkan. Setelah itu, acara makan-makan dan ada doorpize kecil-kecilan yang disediakan oleh tuan rumah untuk mencairkan suasana.

Kadang kata tak bisa berkata banyak, foto-foto ini mungkin bisa menggambarkan banyak. =)

Foto-foto di tengah Eyang Putri memberikan wejangan. =)

Ini juga sama aja. hehe.Dari kiri ke kanan: Mang Utang, Wa Didin, Mang Dindin (Abi), K Rino (Suami Teh Kiki), Wa Nur, Abil.Ini setelah makan-makan. Narsisnya cucu eyang gak ketulungan. Sampai-sampai menciptakan foto di tengah foto-foto. Wkkk.Liat aja. Tetep aja moto sendiri (lagi difoto juga).Cari foto yang ada Nda nya ah. Hehe. (Juru potret jadi jarang kepotret padahal yang lainnya dah gak pengen difoto).Eyang putri dan Eyang Apa. (Grow old with love…Nda juga mauuuu…)Jadi ada 2 doorprize spesial. Pertama, siapa yang isi dompetnya paling dikit. Ada yang 10 sen doang dong. Ya Allah watir amat. Butuh THR banget kayaknya. Hehe. Kalau yang ini, Wa Aa, menang karena (rahasia. Tar aja kalau kitta ketemu dikasih tau. hehe). Yang jelas dapet HP Flexi dari A Ndut yang kerja di Telkom. Wah, **HP baru alhamdulillah… Tuk dipakai di hari raya..**Nah, ini budak-budak yang mulai bosan. Akhirnya melihat-lihat HP dan gadget lainnya. (Dah kebelet futsal kali ye…)

Segitu dulu postingan untuk hari ini. Besok masih ada silaturahmi Abah Roi dan lusa keluarga besar Eyang Putri dan Apa. Ditunggu aja ya saudara-saudaraku.

Selamat bekerja dan belajar di luar sana! Semoga sukses!

Salam hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

Comments (4)

Older Posts »