Tadi, setelah beberapa hari tidak keluar rumah, saya mencari makan di luar. Di bilangan Imam Bonjol. Ketika makan, saya perhatikan tempat makan sudah sangat penuh. Dan menarik, saya menemukan orang-orang berseragam PNS secara berkelompok. Terdapat beberapa kelompok. Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 13.30. Mereka, sama seperti saya, belum memesan apa-apa dan mengobrol seru dengan teman-temannya.
Di lain pihak, saya teringat kejadian kemarin siang. Saat Anas menolong saya untuk mengumpulkan tugas kuliah di salah satu bagian administrasi laboratorium kampus. Pada pukul 15.00, pegawai tidak ada. Uniknya, belum pulang makan siang. Bukan sudah pulang kerja. Oh God!
Kedua hal di atas hanya capture, dari banyak capture yang mungkin anda sekalian pun punya. Mereka tidak takut. Padahal sudah ada stasiun TV yang pernah membuat acara salah satunya memergoki PNS-PNS yang keluar di luar jam kerja. PErtanyaan saya, Apakah jumlah PNS terlalu banyak hingga pekerjaan tiap-tiap orang menjadi sedikit? Atau bagus tidak kinerja PNS tidak terlalu signifikan mempengaruhi keuntungan atau kerugian badan dimana ia bekerja? Atau gaji mereka terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan yang diberikan kepada mereka? Atau? Masih banyak lagi pertanyaan yang bergelut di kepala saya.
Tapi terlepas dari itu semua. Yang saya yakin, semua sebenarnya bisa dikembalikan ke diri masing-masing individu. Sepanjang makan siang, saya terus mengomentari gelagat para PNS tersebut. Tampaknya rekanan bicara saya sudah mulai bete dengan komentar-komentar saya.
Karena takut, akhirnya saya menutup komentar saya dengan, “Mas, tar kalau kita kerja, kalau bisa jangan kayak gitu yah… Bukan kalau bisa… Tapi harus tidak seperti itu…” Yup, kita harus bisa bertanggung jawab atas waktu kita untuk bekerja membuat perusahaan atau badan dimana kita bekerja menjadi lebih baik karena keberadaan kita. Kalau semua orang berfikir seperti itu, saya yakin, selalu ada perubahan atau perbaikan pada perusahaan, terutama perusahaan atau badan pemerintah. Bukannya itu yang sama-sama kita harapkan di Indonesia?
Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat untuk semesta kita…
robin septavyn said
eamg din, pernah gw ke kantor walikota bandung, buset satu ruangan bisa mpe 10 orang, banyak bet. ruangannya tuh sempit, banyak barangnya, dan masih ada yang sempet2nya main game di komputer loh..
trus ke kantor kejaksaan, buset gmna maw ada larangan merokok, disana aja ada satu ruangan kerja (dri tulisan diatas pintu) pada ngerokok semua smbil tertawa riang..
tadi ada berita lucu, beberapa guru dan murid tertangkap pamong praja sedang bolos saat jam kerja..haha..
lawakan ini mah..
robin septavyn said
yap sepakat gw din, tpi sayangnya ITB tidak menunjukkan kearah seperti itu maksud gw untuk memperbaiki hal tadi.
pengusaha dan pengusaha itu saja yang diagung agungkan ITB untuk lulusannya kelak. Bukan penanaman sikap dan ahklak yang baik dalam berkerja demi mewujudkan dunia yang profesional dan penuh sinergisme di tiap elemen.