CARA SEHAT MENJADI PEREMPUAN: Cantik, Feminin, Cerdas.

Dr. Handrawan Nadesul. KOMPAS. Maret 2008. V BAB, 306 Halaman, 14 cm x 21 cm

Buku ini ditulis oleh seorang dokter yang sudah biasa menulis jurnal atau tanya jawab dunia kesehatan sejak duduk di bangku kuliahnya, khususnya perempuan. Jadi pendekatan dan tinjauan-tinjauan permasalahannya sangat dekat dengan yang sering dijumpai oleh perempuan. Bahasanya ringan namun berhasil mengurai permasalahan dengan ilmiah sesuai basic keilmuannya, yaitu kedokteran.

Perempuan terlahir berbeda dengan laki-laki dalam hal-hal tertentu, terutama dalam fisik, itu pasti. Kalaupun ada sisi psikis yang berbeda, saya kira bisa jadi ini disebabkan oleh perbedaan fisik. Sudah semestinya seorang mensyukuri apa-apa yang didapatnya dari Tuhan. Yang paling dekat adalah dianugerahi fisik yang sehat, ataupun kalau ada kelemahan di satu sisi, percayalah Tuhan pasti memberikan kelebihan di sisi yang lain.

Menjadi perempuan memang tidak mudah. Tetapi bukan berarti menganggap menjadi laki-laki lebih mudah. Mungkin ada kesulitan sendiri, tetapi secara fisik, perempuan memiliki karakteristik fisik yang lebih banyak keunikannya. Perihal menstruasi, kehamilan, kesehatan reproduksi, kelenjar mamae dan lain-lain. Terdengar seperti hal biasa mungkin. Tetapi kalau perempuan tidak mengerti bagaimana mensyukurinya (dengan menjaga), bisa menjadi petaka bagi dirinya sendiri. Penyakit-penyakit yang sering dijumpai seperti kista, kanker payudara, darah rendah dan lain-lain menjadi beberapa dari banyak penyakit yang sering diderita oleh perempuan. Padahal sebenarnya dapat dicegah dengan membangun kebiasaan-kebiasaan sehat yang sederhana. Langkah kecil pertama untuk mensyukuri nikmat itu adalah memulai untuk mengenali diri kita lebih dalam, baik secara psikologis maupun fisiologis. Sehingga perempuan mampu memberikan treatment untuk dirinya.

Buku ini memberikan bab-bab mengenali perempuan yang memiliki peran domestik (sebagai peran utamanya) menjadi empat bagian penting; (1) Perempuan sebagai perempuan (umum), (2) perempuan sebagai istri, (3) perempuan sebagai bunda dan (4) perempuan sebagai nenek. Terdapat stressing tersendiri di tiap-tiap topik tersebut. Kalau boleh diurai.

Pertama, lebih ditekankan pada kesehatan perempuan secara umum. Betapa pentingnya manusia menjaga kesehatannya. Yang paling menarik dari uraian tersebut adalah mengenai perempuan dan harga dirinya. Betapa perempuan jangan sampai dengan mudahnya ‘mengumbar’ sex appeal yang dimilikinya kepada setiap lelaki. Karena dalam tinjauan kesehatan (tidak hanya yang parah seperti PMS dll), dapat merusak fisik dan psikis perempuan. Harusnya perempuan terhapus dari yang namanya permissive sex. Karena hubungan seksual tidak bisa dikatakan ‘sekali saja’, atau ‘dua kali’ saja, tetapi ‘dimulai’ atau ‘tidak dimulai’. Selain itu juga dijelaskan beberapa kerepotan menjadi perempuan dan bagaimana mengatasi kerepotan itu menjadi kenikmatan. Membuat perempuan bersyukur telah diberikan ‘kerepotan’ itu.

Kedua, lebih ditekankan agar perempuan harus memilih fokusnya saat berumah tangga. Bagaimana menghargai suami yang pada dasarnya memiliki keinginan manusiawi yang mungkin disebabkan oleh konstruksi sosial sebuah masyarakat atau tatanan nilai. Yaitu dihargai sebagai pemimpin dalam keluarga. Tidak semua suami ikhlas istrinya berpenghasilan lebih tinggi, itu salah satu contoh saja. Seolah menjadi kodrat, suami itu jagoan di rumah istrinya. Suami berharap istri memberikan kesan bahwa suami adalah profesor dalam perkawinan, insinyur dalam rumah tangga dan guru sepanjang hidup bersama. Setiap menggoyang kesan itu, biasanya suami akan merasa gerah. Hal tersebut memebrikan pengetahuan baru bagi saya, bahwa pada dasarnya lelaki pun memiliki karakteristik yang unik dan perlu diperhatikan bagaimana berhubungan dengan kaum adam tersebut.

Ketiga, lebih pada bagaimana menjadi seorang bunda yang kelak dihadapkan pada pilihan-pilihan awal yang menentukan kualitas generasi setelahnya. Memilih susu yang tepat, makanan bayi, memilih sekolah, memberikan pendidikan seks pada anak dan lain-lain. Dalam hal ini, sepertinya perempuan banyak meloloskan diri. Alih-alih fokus pada peran domestik sebagai ibu, perempuan seringkali masih bingung antara pilihan ‘merawat sendiri’ atau ‘menitipkan’ buah hati kepada profesional (baby sitter, pembantu, orang tua dll).

Keempat, saya lebih senang menyebutnya dengan bagaimana menjadi nenek yang bahagia dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Permasalahan orang yang sudah sangat tua, adalah kesepian. Dari kesepian itu muncul beberapa karakter yang sering dimaklumi sebagai keunikan orang tua oleh generasi yang masih memegang adat terhadap orang tua. Karena bagi generasi yang bebas nilai, itu dianggap sebagai susahnya hidup dengan orang tua. Nenek dalam buku ini, diajarkan untuk mencari kesibukan yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya walaupun sudah usia lanjut. Sering kali orang berhenti melakukan aktivitas berkualitas saat ‘dicap’ pensiun dari pekerjaan atau mungkin ‘dicap’ tua. Selain itu, diberikan juga penjelasan mengenai beberapa gangguan kesehatan yang dialami saat usia tua serta bagaimana menjaga agar tubuh tetap bugar.

Yang menjadi kelebihan buku ini adalah keterkaitannya kesehatan dan cara tepat bersikap sebagai perempuan. Buku ini adalah buku kesehatan yang sarat akann nilai. Juga sangat dibutuhkan untuk perempuan. Karena beberapa hal ternyata masih tabu untuk dibincangkan oleh perempuan dengan latar belakang sosial seperti di Indonesia. Seolah menjadi gerbang luar biasa untuk mengakses informasi yang cukup komplit untuk perempuan.

Buku ini juga dapat dijadikan buku pegangan, artinya tidak mesti dibaca tuntas dalam satu periode membaca satu buku. Karena di dalam BAB-BAB nya terdapat topik-topik yang sifatnya kasuistik. Tetapi saya lebih merekomendasikan membacanya tuntas. J

Selain tentang permpuan, ada yang bagi saya menjadi informasi berharga. Yaitu banyak manusia modern mendapati penyakit yang seharusnya tidak terjadi jika manusia modern tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tradisional yang menyehatkan. Seperti kebiasan inem (mencuci, menyiram tanaman, intinya adalah banyak bergerak), memakan makanan rumah (yang tidak mengalami defisiensi akibat efek penyimpanan, proses masak yang terlalu panas dll) dan masih banyak lagi.

Kesimpulannya adalah highly recommended banget untuk dibaca oleh kaum perempuan yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya dan kaum lelaki yang ingin lebih mampu memahami rumitnya dunia perempuan.

Terakhir, ada yang membuat saya dilemma dalam merekomendasikan range usia perempuan yang dapat memebacanya. Inginnya semua perempuan dari kecil sudah paham hal-hal yang termaktub di buku ini. Namun ada beberapa topik yang terlalu fulgar dan mungkin kalau tanpa bimbingan dalam memahaminya malah menghantarkan pada hal-hal negatif. Mungkin saran saya, untuk usia remaja (ABG) jangan membaca bagian kedua dan ketiga terlebih dahulu. Nanti saja ketika sudah kuliah atau usia agak matang, 20an.

Di belakang sukses anak, ada seorang ibu

Di belakang sukses suami, ada seorangg istri

 

 

About these ads

7 Comments (+add yours?)

  1. handrawan nadesul
    Apr 26, 2008 @ 12:37:56

    Halo,
    Thanks untuk apresiated terhadap buku saya. Saya baru tersadar kalau buku ini memang tidak boleh untuk semua umur, mengingat ada bab-bab yang baru l=boleh dibaca usia di atas remaja. Terima kasih sudah mengingatkan saya.
    Sayang buku ini sudah telanjur cetak ulang ke-2 minggu lalu. Tapi akan saya perhatikan.
    Salam hangat dari saya,

    Handrawan Nadesul
    08161105081

    Reply

  2. coxon3011
    Apr 26, 2008 @ 12:53:56

    @Handrawan Nadesul
    Wha…Senang sekali langsung ditanggapi oleh penulis. Saya sedang konsen di dunia pengembangan karakter pelajar putri saat ini.
    Terus menulis dan berbagi. Semoga semakin banyak membantu perempuan Indonesia.
    salam,

    Reply

  3. handrawan nadesul
    Apr 29, 2008 @ 02:14:46

    Ya, ya
    Saya berharap buku ini mewabah sampai ke pelosok desa, pedesaan. Cara penyelsaian masalah kesehatan, da pembangan umumnya, bagaimana secepatnya memberdayakan perempuan, dengan cara murah dan sederhana. Tiada lain dengan menyebarluaskan KIE komunikasi, informasi, dan edukasi. Saya menulis buku selama ini, juga dengan misi yang seperti itu.
    Terima kasih untuk apresiasi.
    Salam,
    Handrawan Nadesul

    Reply

  4. wahidyankf
    Apr 01, 2009 @ 11:54:35

    gile din…ada toh bukunya pa hendrawan nadesul yang itu…kapan2 gua baca ah…keknya berguna pas dah nikah…tertarik gua sama bagian yang ketiga…hehe…keknya bukunya bagus…cos bukunya yang “sehat itu murah” sama “jurus sehat tanpa ongkos” itu…setelah gua sakit n baca2 lagi…jadi nyadar…sama kek yang dokter gizi gua saranin…andaikan gua ikutin dari dulu…(dasar manusia…kalo dah susah aja…baru nyadar…) haha…

    oia…
    —————————————————————–
    Di belakang sukses anak, ada seorang ibu

    Di belakang sukses suami, ada seorangg istri
    ——————————————————————
    setuju banget nih gua din sama Quote yang ini…hehehe…

    yoi… boleh2. menurut gw cowok bagus buat baca juga.

    jd kapan lo jadi suami yang sukses?

    Reply

  5. dhietz
    Apr 23, 2009 @ 15:41:24

    asiik,,nemu blognya Nda,,izin ngelink ya Bu..=)
    jd pgn baca bukunya,,nampak bermanfaat sekali,,

    konsen di bidang pengembangan karakter putri?
    well,,sepertinya kita punya visi yang serupa,,hehe,,

    karena perempuan adalah madrasah pertama..^_^
    bisa kacau itu generasi mendatang kalo perempuannya jg kacau,,

    halow. konsen untuk kehidupan diri untuk masa depan dullu kali yah. :D
    yup. betul sekali. perempuan adalah madrasah pertama untuk anak. bisa dibilang fondasi negara. jadi kalau liat kondisi indonesia saat ini. yang harus kita pertanyakan adalah… ? Perempuan INdonesia gimana nih?
    maaph, barun nyadar ni adisti math 05 yah? hhe

    Reply

  6. Ayyi Ardy
    Jul 22, 2012 @ 13:49:41

    salam sehat dr,handrawan nadesul.
    meskipun saya baru mengenal bapak melalui buku CANTIKCERDASdanFEMININ,
    saya terus terang langsung kagum melihat dari gaya seorang penulis yang sangat dan mampu memotivasi seseorang lewat buku.
    saya sangat cermat dan juga senang membaca buku CANTIKCERDASdanFEMININ
    meskipun saya pria(18). Stelah membaca saya tertarik membeli buku itu utk oleh2 kakak perempuan sebagai bekal knowledge. Awalnya saya pinjem buku itu di PSA saya pak. Iseng2 membaca ternyata kog bagus buku ini ya?
    kebetulan buku itu dapat sendiri langsung dari bpak, buktinya krna ada tnda tngan dr.Handrawan Nadesul di awal halaman,
    nah akhirnya saya cari2 buku itu di gramedia kok ndak ada?

    apa cetakannya udah habis pak?
    bukunya yg terbitan 2010
    penerbit kompas
    kesehatan perempuan ssepanjang usia (CANTIKCERDASdanFEMININ)

    Reply

  7. amaliatsuraya
    Jul 22, 2012 @ 16:37:13

    sumpah aku pngn jdi feminim
    bntu aq ya allah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: