Terimakasih Bapak Supir Angkot

Pagi ini diawali dengan bahagia. Begitu keluar dari Daycare Khaleed, jalan dago itu macet. Gak seperti biasanya. Yah, udah lah pasrah bakal telat sampe kampus. Makin mengenaskan, pas udah nyebrang, ternyata ada tiga angkot yang ‘mungkin’ bisa membawa saya ke kampus. Kenapa mungkin? Soalnya angkot itu bisa belok atau lurus. Kalau belok, yaudah bubye kampus. Jadi males naik angkot tipe ini. Saya lebih suka naik angkot yang pasti lurus.

Gak disangka, si angkot ‘mungkin’ ini dengan supirnya yang tua, berpakaian lusuh dan tampak belum mandi, menawarkan, “Neng, lurus neng.”

Saya naik aja. Walaupun agak pesimis nih angkot gak bakal ngetem. Terus bakal berhenti beberapa kali ngetem untuk mengambil penumpang. Belum lagi karena macet, pasti lebih gak mau rugi bawa penumpang sedikit. Ditambah lagi dia memilih untuk luru, yang mana peluang dapetin penumpangnya makin dikit.

Tuh kan! Suudzon nya banyak banget.

Padahal, ternyata ini angkot jalan terus dengan kecepatan yang wajar, baik dan benar. Bahkan dia tidak berhenti, karena emang gak ada yang nyetop selain saya. Wuih! Mantep juga nih angkot. Jarak Daycare dan kampus yang biasanya berasa 300.000 km gara-gara angkot lama ngetem, pagi ini berasa kalau jaraknya cuman 2 km. :D

Sampai turun dari angkot, penumpang angkot itu cuman saya aja, dan gak pake ngetem. Bingung mau terimakasih gimana. Uang ngepas 2000. Adalagi 50.000, mau beramal tapi masih ada sayang juga. Yaudah deh, dikasih aja 2000nya, sambil dikasih senyum cantik dan ucapan, “Terimakasih ya Pak.”

Jangan Marah Bunda

Mungkin itu yang ada di pikiran Khaleed jika saya berbicara dengan nada tinggi dan kasar. Yup, gak dipungkiri, sebagai orang tua saya belum menjadi yang terbaik terlebih dalam hal mengelola emosi. Kalau sedang santai seperti ini, saya suka mikir, harusnya saya bisa bicara baik-baik. Dan kalau dikaji, biasanya yang membuat mudah marah bukan pada kesalahan Khaleednya, melainkan kepada kondisi hati saya pada saat itu.

Marah juga seringkali tidak membuat Khaleed mengerti. Dalam beberapa kasus malah dia sengaja mengulanginya atau mempertahankan apa yang disalahkan. Mendengar bisikan dari beberapa orang dan juga seminar parenting yang saya ikuti, marah lebih banyak memberikan efek negatif kepada anak. Saran mereka, tidak perlu marah. Tetapi sampaikan mana yang salah dan sampaikan apa yang harus dia lakukan ke depannya, tentunya, dengan cara bicara yang baik.

Percaya atau tidak, jika saya marah, perasaan bersalah selalu menghantui. Jangankan saya yang marah, dulu saat hati masih terlalu lemah, bahkan melihat orang lain dimarahin atau dibentak, bisa-bisa saya menahan nafas supaya tidak menangis. Mungkin ini terjadi karena orang tua saya tidak membesarkan saya dengan marah-marah.

Sebaiknya jika rasa marah menghampiri, pilihlah untuk diam. Jika tidak tertahan, duduk. Jika sudah duduk, berbaring. Bisa juga mengambil air wudhu. Lebih baik lagi, jika memaafkan sesuatu yang membuat saya marah. Hufh. Bismillah. Semoga selalu bisa mengendalikan emosi, terutama dalam hal marah.

Di Pertigaan Pertama

Yang saya suka dari melakukan riset adalah selalu mencari tahu apa yang terbaru yang diteliti oleh orang tentang suatu bidang. Menantang karena baru. Merasa puas karena mendapat informasi yang seringkali menarik. Namun, yang paling sulit dari riset adalah MEMILIH.

Mencoba mencari jejak penelitian saat Tugas Akhir (sarjana) dan Thesis, memang banyak sekali intervensi pembimbing dalam memilihkan jejak yang harus ditempuh dalam riset. Sekarang? Sekarang serba bingung. Haruskah bertanya jika sedang memilih?

Gantian Ya Bunda

Setiap mengantarkan Khaleed di Daycare, saya selalu pamit. Zaman bayi ceritanya bagaimana menerapkan proses pelepasan yang baik untuk anak dan Bundanya. Tapi cerita sekarang lebih ke percakapan antara saya dan Khaleed. Kira-kira begini kalimat pamit saya.

“Mas Khaleed sekarang main di Daycare dulu yah. Bunda belajar di kampus. Khaleed sikapnya yang baik sama teman-temannya. Nanti sore siapa yang jemput Khaleed?”

“Bunda.”

“Oke. Sekarang salim dulu.”

Setelah itu peluk-peluk atau cipika cipiki. Tetapi beberapa waktu lalu Khaleed berusaha merubahnya.

“Bunda, Khaleed ke kampus dulu ya. Bunda di daycare aja. Khaleed mau belajar.”

Bernyanyi dan Iklan First Media

Jadi beberapa waktu lalu, di jalan menuju Daycare, ada pemasangan entah apa namanya, tetapi semacam tabung begitu oleh First Media. Setelah pemasangan selesai, dilanjut pemasangan spanduk sebagai iklan bahwa First Media kini sudah hadir di Bandung. Di spanduk itu terdapat gambar minion, superman dan tokoh frozen. Ada yang lainnya juga tetapi saya hanya ingat segitu.

Spanduk itu pun akhirnya menarik perhatian Khaleed setiap berjalan pagi hari.

“Bunda, itu minion.”

“iya…”

“Itu let it go.”

“Iya mas…”

“Itu oom..”

“Iya sayang…” Continue reading

Obrolan Sabtu Itu dengan Eyang Ema

Sabtu sepi itu adalah ketika suami dapat kerjaan tambahan di kantor, anak diajak eninnya ke luar kota. Udah kebayang boring banget mana harus ngurusin pertukangan. Sebelum boring berkepanjangan, di-sms umi lah disuruh ke rumah eyang karena nampaknya lagi kurang sehat, temenin eyang.
Dan sabtu boring itu akhirnya gak kejadian dengan obrolan santai (santai gak yah) seperti ini,
“Yang, ada kabar baik. Jokowi dah sowan ke Prabowo.”
“Wah, bagus pemimpin harus seperti itu.”
*Dalam hati, edan naha jadi bagus gini citranya Jokowi*
“Tapi yang, Prabowo juga bagus statusnya di FB.”
Dan karena HP kecil, jadi eyang gabisa baca, dan minta saya bacain status panjang itu.
*saya bacain sampe berbusa. Panjang pisan*
“Bagus kata-katanya.”
*Nah,,, imbang kan sekarang. Hahaha. Ketawa jahat*
Dari situ mulailah obrolan bahwa memang kita mudah sekali terpecah belah. Indonesia ini beragam banget. Hal itu sudah kejadian sejak jaman Belanda. Kita berbeda mah memang sudah berbeda. Tetapi kadang perbedaan ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal walaupun kendaraan, pakaian, kulit, bahasa dan lain-lain yang beda itu, sebenarnya semua manusia ingin kehidupan yang progresif, aman, damai dan segala yang bagus-bagus. Kita semua sama-sama manusia. Continue reading

Toilet Training Khaleed

Hari-hari sekarang, saya bisa bilang, saya tidak menganggarkan uang bulanan lagi untuk membeli popok sekali pakai untuk Khaleed. Sejak awal menggunakan popok sekali pakai, sebenarnya saya galau sekali. Tapi saya sadar diri dan merasa menggunakan popok sekali pakai memang pilihan terbaik saat itu. Alhasil saya memiliki tugas tambahan di kemudian hari.

Kenapa galau? Karena sejak tinggal di Korea dan mengelola sampah rumah tangga dengan apik, saya jadi mulai peduli lingkungan. Bayangin aja, dalam 3 hari sampah rumah tangga kami lebih sedikit daripada sampah popok sekali pakai ini. Bisa dibilang, jika ada sepasang suami istri dan bayinya menggunakan popok sekali pakai, maka sampah bertambah dua kali lipat, bahkan mungkin lebih. Dan konon popok sekali pakai ini termasuk kategori yang sulit untuk didaur ulang. Continue reading